KLHK Dorong Pengembangan Komoditas Hutan Nonkayu

Pemerintah mendorong masyarakat dan pelaku industri kehutanan untuk mengembangkan komoditas hasil hutan bukan kayu seperti kopi, getah-getahan, madu, aren dan sebagainya.
Nur Faizah Al Bahriyatul Baqiroh
Nur Faizah Al Bahriyatul Baqiroh - Bisnis.com 10 Mei 2019  |  15:24 WIB
KLHK Dorong Pengembangan Komoditas Hutan Nonkayu
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar (kanan) mengikuti rapat kerja dengan Komisi IV DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (19/3/2019). - ANTARA/Indrianto Eko Suwarso

Bisnis.com, JAKARTA - Pemerintah mendorong masyarakat dan pelaku industri kehutanan untuk mengembangkan komoditas hasil hutan bukan kayu seperti kopi, getah-getahan, madu, aren dan sebagainya.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar menyampaikan menurut hasil kajian, 95% nilai ekonomi kehutanan itu potensinya berasal dari hasil hutan bukan kayu dan jasa lingkungan.

"Oleh karena itu saya harapkan komitmen dan totalitas dari seluruh stakeholders untuk terus menggali dan mengembangkan hasil hutan bukan kayu dan jasa lingkungan seiring dengan perkembangan zaman revolusi industri 4.0," katanya di Jakarta, Jumat (10/5/2019).

Menurutnya, hal tersebut perlu dilakukan agar hasil hutan bukan kayu dan jasa lingkungan dapat menjadi salah satu industri multi bisnis kehutanan yang terintegrasi dari hulu sampai hilir.

"Juga menjadi salah satu tulang punggung baru perekonomian Indonesia dengan tetap melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama," lanjutnya.

Dia optimistis bahwa upaya pengembangan hasil hutan bukan kayu dan jasa lingkungan dapat berkembang pesat dengan mengubah paradigma bisnis kehutanan.

"Yakni dengan perubahan konfigurasi bisnis timber management menjadi forest landscape management, dan dari orientasi korporasi menjadi orientasi multi pelaku usaha," katanya.

Selain itu, Siti juga menegaskan dalam menghadapi era revolusi Industri 4.0 bagi pembangunan hasil hutan bukan kayu dan jasa lingkungan perlu diperhatikan beberapa tujuan strategis seperti masalah kecukupan bahan baku, efisiensi produksi, efesiensi dan efektifitas pasar (market place).

"Kemudian, fair price dengan basis value chain yang tepat, aspek pembiayaan dan investasi berbasis teknologi, serta aspek keberlanjutan," tandasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kehutanan

Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top