Awal Kuartal II/2019, PMI Manufaktur Jepang Tumbuh

Sebuah survei menunjukkan aktivitas manufaktur Jepang meningkat pada April untuk pertama kalinya dalam tiga bulan terakhir. Peningkatan ini disebabkan oleh positifnya data tenaga kerja dan optimisme prospek bisnis.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 07 Mei 2019  |  18:55 WIB
Awal Kuartal II/2019, PMI Manufaktur Jepang Tumbuh
Seorang pekerja berjalan di areal pabrik yang berada di zona industri Keihin, Kawasaki, Jepang (8/3/2017). - .Reuters/Toru Hanai

Bisnis, JAKARTA - Sebuah survei menunjukkan aktivitas manufaktur Jepang meningkat pada April untuk pertama kalinya dalam tiga bulan terakhir. Peningkatan ini disebabkan oleh positifnya data tenaga kerja dan optimisme prospek bisnis.

Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur Nikkei Jepang naik ke 50.2 yang disesuaikan secara musiman pada April dari 49.2 di bulan sebelumnya.

Untuk pertama kalinya sejak Januari, indeks melampaui ambang batas 50 yang memisahkan indikator kontraksi dari ekspansi.

Joe Hayes, seorang ekonom di IHS Markit, yang menyusun survei tersebut mengatakan peningkatan ini akan menjadi sinyal dimulainya stabilisasi setelah momentum pelemahan yang sudah mereda.

"Mengingat kesulitan yang dihadapi oleh perusahaan-perusahaan di industri semi konduktor dan yang berhubungan dengan produksi mobil dalam beberapa bulan terakhir, hal ini menjadi pertanda baik bahwa bukti anekdotal menunjukkan optimisme yang lebih kuat untuk dua industri utama Asia ini," kata Hayes, seperti dikutip melalui Reuters, Selasa (7/5/2019).

Indeks yang mengukur lapangan kerja menunjukkan peningkatan angka penerimaan pada laju tercepat sejak November. Sementara optimisme terhadap prospek produksi satu tahun naik ke level tertinggi dalam lima bulan terakhir.

Akan tetapi, output pabrik dan keseluruhan pesanan baru terus menyusut, meskipun masih dalam batas aman. Adapun perusahaan meningkatkan upaya untuk mengurangi kelebihan persediaan, menunjukkan bahwa pabrikan tidak melihat rebound dalam waktu dekat.

Di sisi lain, indeks pesanan ekspor baru turun pada kecepatan yang lebih tajam menjadi 47,8 dari 48,1 pada bulan Maret.

"Sementara itu, biaya operasional terus mengalami peningkatan di tengah beban yang lebih tinggi untuk bahan bakar, tenaga kerja dan bahan mentah. Tetapi perusahaan tidak dapat membebani kenaikan beban terhadap harga jual ke konsumen," seperti tertulis dalam laporan Reuters.

Data pekan lalu menunjukkan output industri Jepang turun pada Januari-Maret pada laju tercepat hampir lima tahun. Ini menunjukkan ekonomi mencatat kontraksi ringan pada kuartal pertama karena produsen berjuang dengan perang dagang AS-Sino dan perlambatan ekonomi China.

Amerika Serikat dan China tampaknya akan segera mencapai kemajuan signifikan dalam menuntaskan kesepakatan untuk mengakhiri perselisihan perdagangan selama berbulan-bulan.

Tetapi para analis memperingatkan kesepakatan itu tidak akan mengubah sikap proteksionis Washington.

Pasar Jepang terekspos dengan sengketa AS-China karena pengiriman barang-barang elektronik dan mesin-mesin berat ke China dalam volume besar, di mana bahan tersebut digunakan untuk membuat barang jadi yang ditujukan untuk Amerika Serikat.

Washington juga mendesak Tokyo untuk membuat kesepakatan perdagangan baru guna mengurangi defisit perdagangannya yang besar, dan secara khusus mendesak pembuat mobil Jepang untuk merakit lebih banyak kendaraan di AS.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
manufaktur

Editor : Tegar Arief

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top