Siasati Hambatan Dagang, PTP Gagas Bangun Terminal CPO di Pakistan

PT Pelabuhan Tanjung Priok (PTP) menggagas pembangunan dan pengoperasian terminal khusus CPO di Pakistan, sebagai hub ekspor Indonesia sebelum didistribusikan ke Eropa.
Sri Mas Sari
Sri Mas Sari - Bisnis.com 06 Mei 2019  |  12:05 WIB
Siasati Hambatan Dagang, PTP Gagas Bangun Terminal CPO di Pakistan
Ilustrasi - Pabrik minyak sawit mentah - Bisnis/Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - PT Pelabuhan Tanjung Priok (PTP) menggagas pembangunan dan pengoperasian terminal khusus CPO di Pakistan, sebagai hub ekspor Indonesia sebelum didistribusikan ke Eropa, pasar terbesar kedua minyak sawit Indonesia setelah India.

Direktur Utama PT PTP Imanuddin mengatakan, perseroan beberapa waktu lalu bertemu dengan Duta Besar RI untuk Pakistan bersama Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) di Pakistan untuk membicarakan ide itu.

Terminal curah cair yang dilengkapi dengan tangki CPO dirancang dibangun di Gwadar, kota pelabuhan di pesisir barat daya Balochistan, sekitar 700 km dari barat Karachi, kota terbesar di Pakistan.

Dari Gwadar, CPO akan didistribusikan ke berbagai negara tujuan, termasuk Uni Eropa. Dengan begitu, tutur Imanuddin, PTP dapat menikmati nilai tambah. "Added value-nya di mana? Kami menjadi terminal operator di sana," ujarnya, Jumat (3/5/2019).

Menurut dia, Malaysia telah lebih dahulu menempuh cara serupa, yakni dengan menjadikan Turki sebagai hub. Sementara itu, eksportir Indonesia saat ini masih mengekspor sendiri-sendiri langsung ke negara tujuan.

Selain Pakistan, PTP juga sedang mempelajari kemungkinan ekspansi ke Papua Nugini. "Mereka minta kami bantu untuk bisa bangun pelabuhan," kata Imanuddin.

Strategi pertumbuhan merupakan salah satu fokus IPC saat ini. Ekspansi ke luar IPC, termasuk ke luar negeri, melalui anak-anak perusahaan adalah strategi pertumbuhan anorganik yang ditempuh BUMN operator pelabuhan itu.

Sebelumnya, pelaku usaha mengusulkan agar BUMN membuka pelabuhan khusus dan mendirikan tangki CPO dan turunannya di Pakistan dan Rusia.

Wakil Ketua Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) Sahat Sinaga mengatakan, langkah itu untuk menyiasati hambatan perdagangan ke sejumlah pasar tradisional CPO dan turunannya, seperti Eropa dan AS yang selama ini meniupkan kampanye hitam maupun mengenakan hambatan tarif.

Adapun menggarap pasar nontradisional yang daya belinya tidak cukup tinggi dapat dilakukan dengan melayani pembelian secara ritel. Langkah itu dapat ditempuh dengan membuka pelabuhan dan mendirikan tangki di negara tujuan.

Selama ini, eksportir mengapalkan CPO dan turunannya dalam volume besar hingga di atas 1.000 ton. Jika mendirikan tangki di negara tujuan, eksportir dapat melayani pembelian dalam volume puluhan atau ratusan ton.

“Kami harapkan yang bikin perusahaan pemerintah (BUMN). Bukan swasta enggak bisa. Kalau pemerintah yang punya, aman, tidak memihak,” kata Sahat (Bisnis.com, 11/7/2017).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
cpo, minyak sawit, pakistan, pelabuhan tanjung priok

Editor : Yusuf Waluyo Jati
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top