Kejar Pangsa Pasar Ekspor, Petambak Udang Diminta Disiplin Terapkan SOP

Di balik potensi pasar global yang besar, nyatanya pangsa pasar udang Indonesia masih bertengger di angka 7% dengan Amerika sebagai pasar utamanya. Kurang disiplinnya petambak dalam melakukan praktik budi daya yang baik menjadi salah satu faktor penyebab.
Juli Etha Ramaida Manalu
Juli Etha Ramaida Manalu - Bisnis.com 02 Mei 2019  |  19:06 WIB
Kejar Pangsa Pasar Ekspor, Petambak Udang Diminta Disiplin Terapkan SOP
Warga menggarap tambak udang di dekat area lahan pembangunan Bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Temon, Kulonprogo, DI Yogyakarta, Rabu (22/11). - ANTARA/Hendra Nurdiyansyah

Bisnis.com, JAKARTA- Di balik potensi pasar global yang besar, nyatanya pangsa pasar udang Indonesia masih bertengger di angka 7% dengan Amerika sebagai pasar utamanya. Kurang disiplinnya petambak dalam melakukan praktik budi daya yang baik menjadi salah satu faktor penyebab.

 Hendri Laiman, Direktur Feed Business PT Central Proteina Prima Tbk., menyebutkan, ada sejumlah hal yang menjadi penyebab kondisi ini.

Menurutnya, kendati terletak di garis khatulistiwa dengan anugerah iklim tropis yang dinilai paling pas, cuaca yang terjadi akhir-akhir ini memang kurang kondusif bagi budi daya udang. Selain itu, baik di luar maupun di dalam negeri, penyakit pun kerap mengintai budi daya udang.

“Memang budi daya sekarang ini kan juga kurang kondusif dengan cuaca [seperti saat ini], penyakit yang memang boleh kita bilang selalu ada yang baru,” katanya, Kamis (2/5/2019).

Namun, menurut Hendri, kedua hal ini seharusnya bisa diatasi jika para petambak patuh dan disiplin terhadap standar operasional prosedur (SOP) cara budi daya ikan yang baik (CBIB).

Lingkungan hidup udang yang sehat menjadi salah satu poin yang perlu dipenuhi. Untuk mewujudkan hal ini, kepadatan (density) kolam di tambak perlu menjadi perhatian.

Hendri menyebutkan, budi daya udang yang sehat adalah ketika 70% dari luasan kolam bisa dimanfaatkan sebagai tempat udang bergerak atau beraktivitas.

“Karena di sisa [luasan] nya ada kotoran numpuk. Semakin pada [tebaran udang] kotoran melebar, kurang dari 70%, sempit, matilah udang itu,” ujarnya.

Kepadatan kolam yang terlalu tinggi ini juga mebuat udang rentan terhadap penyebaran penyakit. Udang-udang tidak sehat yang ada di kolam dan kemudian mati, berpotensi disantap oleh udang-udang yang sehat. Dengan demikian, udang-udang sehat ini juga akan tertular penyakit.

“Kelemahannya, kadang orang berpikir agak serakah ya. Dia pikir dengan kolam yang ada terbar 100.000 [benur] bisa menghasilkan udang 1.5 ton. Kalau begitu kenapa enggak tebar 200.000 atau 300.000. Enggak begitu,” tambahnya.

Selain kepadatan, masih ada sejumlah hal lain yang perlu diperhatikan dalam budi daya udang seperti pemberian pakan dan lain-lain. Hal ini, katanya perlu dilakukan secara disiplin dan berkelanjutan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perikanan, udang

Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top