Pengusaha Desak Penerbitan SNI untuk Ikan Patin

Pengusaha meminta pemerintah segera menuntaskan penyusunan standar nasional Indonesia atau SNI patin untuk melindungi pasar dalam negeri sekaligus memperkuat pasar ekspor.
Juli Etha Ramaida Manalu
Juli Etha Ramaida Manalu - Bisnis.com 30 April 2019  |  14:19 WIB
Pengusaha Desak Penerbitan SNI untuk Ikan Patin
Ikan patin - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA — Pengusaha meminta pemerintah segera menuntaskan penyusunan standar nasional Indonesia atau SNI patin untuk melindungi pasar dalam negeri sekaligus memperkuat pasar ekspor.

Samiono, Direktur Central Pertiwi Bahari, yang juga merupakan Ketua Bidang Pengembangan Industri Asosiasi Pengusaha Catfish Indonesia (APCI), menyebutkan penyusunan SNI telah dimulai. Bahkan, draf standar tersebut telah rampung. Namun, Samiono belum mengetahui kapan SNI tersebut akan segera diterbitkan.

“Kebetulan APCI dilibatkan [dalam penyusunan SNI]. Waktu direktur jenderal masih Pak Rifky itu draf sudah final, hampir selesai. Kami perlu dorong lagi bahwa ini benar-benar ditindaklanjuti karena itu yang sangat kami tunggu,” katanya, Rabu (24/4/2019).

Menurutnya, SNI ini perlu diterbitkan secepatnya karena akan membutuhkan waktu paling cepat 1 tahun bagi para pelaku industri untuk bisa melakukan penyesuaian hingga pemberlakuan SNI tersebut bersifat wajib.

Wajib SNI patin dinilai bisa menjadi perlindungan terhadap patin Indonesia serta menangkal patin impor. Dari segi kualitas, dia menjamin bahwa patin Indonesia, khususnya yang tergabung dalam APCI, jauh mengungguli produk-produk asal negara lain, khususnya patin atau dori asal Vietnam yang saat ini mendapat penolakan di berbagai negara.

Namun, dari segi harga, produk Indonesia memang sedikit lebih mahal. Samiono menjelaskan, sedikitnya ada tiga aspek yang membuat patin Indonesia unggul dibandingkan dengan produk serupa dari negara lain. Salah satunya adalah penggunaan air sumber dalam budi daya patin.

“Bandingkan dengan Vietnam yang menggunakan air sungai yang sudah mengalir, kalau dilihat [Sungai] Mekong itu ujungnya dari Kamboja. Artinya kalau pakai air sumber ada infi ltrasi air, ikannya juga sehat,” jelasnya.

Selain itu, metode budi daya patin di Indonesia dengan tingkat kepadatan yang rendah juga menjadi keunggulan dari sisi kesejahteraan hewan. Di samping itu, kepadatan yang rendah juga membuat proses budi daya patin Indonesia tidak menggunakan antibiotik melainkan probiotik.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ikan patin

Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top