Dalam Negeri Lesu, Industri Keramik Sanitary Kejar Eskpor

Pabrikan keramik sanitary dalam negeri memacu penjualan ke pasar ekspor karena permintaan dalam negeri terus melemah.
Annisa Sulistyo Rini
Annisa Sulistyo Rini - Bisnis.com 25 April 2019  |  18:30 WIB
Dalam Negeri Lesu, Industri Keramik Sanitary Kejar Eskpor
ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA — Pabrikan keramik sanitary dalam negeri memacu penjualan ke pasar ekspor karena permintaan dalam negeri terus melemah.

Hendry Widjaja, Ketua Bidang Sanitary Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki), mengatakan penurunan permintaan keramik sanitary dirasakan sejak akhir 2017 hingga saat ini. Sebelumnya, produksi diserap pasar domestik sebesar 70% dan untuk ekspor sebesar 30%, tetapi sekarang porsi serapan lokal sebesar 55% dan sisanya ekspor.

“Salah satu perusahaan sanitary yang di Indonesia mengirim produknya ke perusahaan satu grup yang berada di China dan Amerika Serikat,” ujarnya Kamis (25/4/2019).

Perlambatan di sektor properti disebutkan juga berimbas ke industri keramik sanitary. Hendry menuturkan pada 2016 saat industri properti mulai melambat, permintaan dalam negeri belum turun. Penurunan baru terasa pada akhir 2017.

Dia juga menilai pengembang properti masih import minded atau menganggap produk sanitary impor kualitasnya lebih baik dibandingkan produksi dalam negeri, terutama untuk segmen menengah ke atas.

Padahal, pabrikan yang ada di Indonesia memiliki standar internasional yang sama dengan jaringan perusahaan di luar negeri dan kualitasnya tidak kalah dengan produk impor.

Lantaran memiliki kualitas dengan standar internasional, produk keramik sanitary asal Indonesia tidak kesulitan menembus pasar global, bahkan bisa menembus pasar Amerika Serikat, Timur Tengah dan Eropa.

Beberapa perusahaan keramik sanitary yang berada di Indonesia merupakan perusahaan jaringan global, seperti PT Surya Toto Indonesia yang berafiliasi dengan Toto dan PT American Standard Indonesia yang berada di bawah naungan Lixil. Selain itu, ada pula merek internasional asal Spanyol Roca, yang baru memiliki fasilitas produksi di Griya Idola Industrial Park di Cikupa, Tangerang.

Produsen asal Amerika Serikat Kohler juga tengah merampungkan pabrik sanitary di kawasan Deltamas, Cikarang dengan fasilitas 1 juta unit per tahun. Pabrik ini ditargetkan mulai beroperasi pada akhir tahun ini.            

Menurut Hendry, potensi pasar Indonesia masih besar sehingga para pemain global mau berinvestasi di Indonesia. Pasalnya, penggunaan produk keramik sanitary di Indonesia masih lebih rendah dibandingkan Thailand yang jumlah penduduknya sebesar 69 juta jiwa atau sekitar 28% dari jumlah populasi Indonesia.

Sebelumnya, Dirjen Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil Kementerian Perindustrian Achmad Sigit Dwiwahjono mengatakan industri keramik masih prospektif untuk jangka panjang seiring konsumsi keramik per kapita di Indonesia masih di bawah 2 meter persegi, lebih rendang dibandingkan negara Asia Tenggara lainnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
industri, keramik

Editor : Galih Kurniawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top