Politik Energi Hijau: Jangan Main-main dengan Waktu

Jalan masih panjang dan berliku menuju 'Indonesia Hijau' yang kita cita-citakan. Namun kita tidak boleh mundur lagi dari posisi hari ini.
Inria Zulfikar
Inria Zulfikar - Bisnis.com 24 April 2019  |  22:01 WIB
Politik Energi Hijau: Jangan Main-main dengan Waktu
Presiden Joko Widodo (kedua kanan) membuat video vlog didampingi Dirut PLN Sofyan Basyir (kiri), Presdir PT Binatek Energi Terbarukan Erwin Yahya (kanan) dan Bupati Sidrap Rusdi Masse (kedua kiri) saat peresmian Pembangkit Listirk Tenaga Bayu (PLTB) di Desa Mattirotasi, Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan, Senin (2/7/2018)./ANTARA FOTO - Abriawan Abhe

Bisnis.com, JAKARTA--Dunia makin maju dalam hal penggunaan energi hijau, energi ramah lingkungan, energi terbarukan. Semuanya diawali dengan kata "eco" atau "green". Semua negara berpacu untuk berada di 'jalur hijau' guna mendukung semua aktivitas kehidupan warganya.

Mulai dari kendaraan, bahan bakar, teknologi manufaktur, dunia kesehatan bahkan hingga kegiatan pertambangan yang berada jauh di perut bumi.

Indonesia pun tengah bergerak ke arah sana, menuju barisan negara yang ramah pada lingkungan, peduli pada kelestarian alam. Regulasi mengenai peta jalan dan pengembangan mobil listrik misalnya, merupakan bentuk komitmen negeri ini untuk membangun wajah dunia yang lebih segar dan berseri.

Tentu saja jalan masih panjang dan berliku menuju 'Indonesia Hijau' yang kita cita-citakan. Namun kita tidak boleh mundur lagi dari posisi hari ini. Karena bila kita bermain-main dan berlindung atas nama waktu, sejatinya kita melipatgandakan ancaman dan risiko yang kian sulit dikelola.

Kerusakan lingkungan, pemanasan global, cuaca ekstrim, bencana alam hingga berbagai anomali misterius lainnya sudah muncul sebagai dampak dari keterlambatan warga dunia dalam mengambil sikap. Andai pun sudah bersikap, bisa jadi belum menyentuh persoalan mendasar.  

Thomas L. Friedman, jurnalis Amerika yang terkenal itu, sudah secara tegas mengingatkan ancaman global ini dan apa dampaknya terhadap warga dunia.

Dalam salah satu buku larisnya yang berjudul Hot, Flat, and Crowded: Why We Need Green Revolution (2008), kolomnis itu menegaskan bahwa bumi menjadi panas karena kemajuan teknologi telah mempercepat laju peningkatan emisi gas-gas rumah kaca ke atmosfer, sehingga menghambat pelepasan hawa panas dari bumi ke ruang angkasa.

Pun, menurut dia, bumi menjadi rata karena kemajuan teknologi komunikasi dan transportasi memungkinkan siapa pun, di mana pun, dapat saling berhubungan dan saling bersaing dalam segala hal dengan mudah.

Alhasil, seolah bumi seperti berada di atas sebuah pinggang yang datar.

Belum cukup, bumi juga semakin sesak karena penduduk yang makin banyak akibat keberhasilan menekan angka kematian, dan industrialisasi, bertumpuk di kawasan perkotaan dan sekitarnya tanpa upaya yang seimbang dalam pembenahan sarana dan prasarana.

"Adakah yang bisa kita lakukan agar dunia tetap menjadi tempat di mana burung bisa terbang dan menyanyi. Tempat kita bisa menghirup udara yang bersih. Tempat kita tidak takut tenggelam atau takut mengalami kekeringan yang membakar. Tempat kita bisa membangun keluarga yang berkecukupan."

Keprihatinan Friedman menjadi keprihatinan kita juga. Pilihannya sudah jelas: Terlena atau mati! Kecepatan pengembangan inovasi teknologi pemanfaatan energi hijau akan sangat menentukan nasib manusia.

Ungkapan 'apa yang baik bagi General Motors tidak selalu baik bagi Amerika' mungkin juga terjadi di negara-negara lain ketika upaya atau gerakan baru untuk meninggalkan bahan bakar fosil terasa jalan di tempat. Kita tidak ingin seperti ini. Dengan peta jalan pengembangan mobil listrik misalnya, langkah maju harus dibuat dan terukur. Tidak kemudian menguap hanya gara-gara 'tersandera tahun politik'.

Sebagai perbandingan, Denmark sebagai negara kecil di Eropa, setelah krisis minyak menimpa dunia pada 1973, pemerintahnya langsung mengambil sikap tegas dan berani. "Kami mengambil keputusan bahwa kami harus meninggalkan ketergantungan pada minyak," ujar Connie Hedegaard, menteri urusan iklim dan energi (2007-2009).

Keputusan dan keberanian macam ini yang ditunggu-tunggu. Perjalanan Denmark juga tidak mulus. Namun visi dan misi sudah dicanangkan, dan semua pemangku kepentingan sepakat untuk mengatakan 'selamat tinggal minyak bumi'.

Masih di negara kecil Eropa itu. Mereka melakukan debat serius mengenai kemungkinan pemanfaatan energi nuklir sebelum akhirnya wacana itu ditutup karena ditolak pada 1985.

Ujungnya, Denmark menempuh kebijakan efisiensi energi dan sekaligus mencari energi yang terbarukan. "Kami memutuskan menggunakan pajak. Jadi energi dibuat relatif mahal dan [karena itu] orang tergerak untuk berhemat dan berbuat apapun di rumah masing-masing supaya lebih efisien," kata Connie.

Dan ini pernyataannya yang juga relevan dengan dinamika di Indonesia. "Itu hasil sebuah tekad politik."

Ya, karena itu kita juga berhak mengetahui bagaimana perkembangan dunia energi terbarukan di Tanah Air? Mau pilih opsi yang mana? Cara Denmark, cara China atau cara yang sesuai dengan karakter bangsa Indonesia?

Bahkan proses menuju energi hijau di Amerika Serikat pun lebih heboh dan panas. Bisa dikatakan, ganti presiden, ganti kebijakan.

Ada kejadian lucu, saat berkuasa Presiden Ronald Reagan membongkar panel-panel surya yang pernah dipasang oleh pendahulunya, Jimmy Carter, di atap Gedung Putih.

Panel-panel surya itu akhirnya diberikan kepada sebuah perguruan tinggi di Maine, yang belakangan menjualnya lewat lelang online kepada kolektor benda bersejarah.

Associated Press (28 Oktober 2004), mengisahkan lelang tersebut: "Ketiga puluh dua panel ini pernah dipasang di rumah kediaman resmi presiden selama masa negeri ini mengalami dampak embargo minyak Arab. Tapi dibongkar selama masa kepresidenan Ronald Reagan pada tahun 1986, sesudah krisis energi dan kecemasan tentang ketergantungan kepada minyak dari luar negeri mereda."

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
energi terbarukan

Editor : Inria Zulfikar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top