Industri Pertahanan Dalam Negeri Minim Teknologi Tinggi

Keterbatasan penguasaan teknologi menjadi kendala bagi industri pertahanan nasional untuk mampu bersaing dengan produk dari negara lain.
Annisa Sulistyo Rini
Annisa Sulistyo Rini - Bisnis.com 22 April 2019  |  16:52 WIB
Industri Pertahanan Dalam Negeri Minim Teknologi Tinggi
ilustrasi - JIBI/Endang Muchtar

Bisnis.com, JAKARTA — Keterbatasan penguasaan teknologi menjadi kendala bagi industri pertahanan nasional untuk mampu bersaing dengan produk dari negara lain.

Jan Pieter Ate, Ketua Harian Persatuan Industri Pertahanan Swasta Nasional (Pinhantanas), mengatakan teknologi di sektor militer saat ini sudah sangat canggih dan misi militer sangat berisiko apabila peralatan yang digunakan tidak memiliki spesifikasi sesuai standar dan kebutuhan.

Oleh karena itu, apabila produk dalam negeri belum mampu memenuhi spesifikasi teknologi, maka sektor militer sebagai pengguna akan melihat produk luar negeri sebagai pilihan.

Engineer yang capable untuk high technology di dalam negeri masih terbatas, research and development (R&D) scope-nya juga masih kecil untuk bisa menjangkau kebutuhan teknologi yang utuh. Apalagi untuk R&D ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (22/4/2019).

Menurutnya, tidak ada pilihan lain bagi Indonesia untuk bisa menjadi negara besar selain dengan mengembangkan teknologi di bidang militer. Oleh karena itu, dia pun berharap pemerintah fokus membangun industri pertahanan dalam negeri.

Jan Pieter menuturkan semestinya pemerintah fokus dalam mengarahkan industri pertahanan nasional ke teknologi yang lebih terjangkau dan lebih cepat dikuasai industri dalam negeri.

“Kami sangat menunggu kebijakan presiden 5 tahun mendatang di industri pertahanan seperti apa,” katanya.

Di kawasan Asia Tenggara, Singapura menjadi negara yang memiliki industri pertahanan yang maju. Kendati merupakan negara kecil, Singapura telah mampu mengekspor komponen-komponen alutsista canggih seperti radar dan senjata-senjata dengan teknologi mutakhir.

Jan Pieter mengatakan nilai produk-produk canggih tersebut lebih besar dibandingkan kapal dan pesawat militer.

Dia menyatakan ketergantungan pada produk impor di sektor pertahanan sudah mulai dikurangi dengan memanfaatkan produk dalam negeri walaupun untuk produk berteknologi tinggi belum mampu diproduksi. Beberapa produk pertahanan yang sudah diproduksi di dalam negeri antara lain senjata kendaraan tempur, rompi anti peluru, kapal patrol, pesawat, serta drone.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
industri, militer

Editor : Galih Kurniawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup