Bukalapak Garap Kecerdasan Buatan untuk Bisnis Online dan Offline

Bukalapak telah mengalokasikan investasi hingga Rp1 triliun untuk mengembangkan O2O.
Deandra Syarizka
Deandra Syarizka - Bisnis.com 22 April 2019  |  08:21 WIB
Bukalapak Garap Kecerdasan Buatan untuk Bisnis Online dan Offline
Vice President of Marketing Bukalapak Bayu Syerli, aktris Dian Sastrowardoyo, dan Co/Founder & Presiden Bukalapak Fajrin Rasyid dalam konferensi pers menyambut Harbolnas.

Bisnis.com, JAKARTA — Bukalapak mengembangkan teknologi kecerdasan buatan untuk diterapkan di platform belanja daring dan luring perusahaan.

Di platform marketplace, artificial intelligence (AI) diterapkan untuk  memperkuat sistem rekomendasi produk di platform belanja daring.Teknologi yang sama juga dikembangkan untuk membangun sistem prediksi kebutuhan stok barang baik untuk Mitra Bukalapak maupun di gudang milik Bukalapak.

Co-Founder dan President Bukalapak Fajrin Rasyid menyatakan pihaknya telah gencar menggarap segmen O2O sejak meluncurkan program Mitra Bukalapak pada 2017. Hingga kini, dia menyatakan jumlah mitra Bukalapak mencapai 800.000 pemilik warung dan ditargetkan dapat mencapai lebih dari 1 juta pemilik warung pada akhir tahun nanti.

Melalui program tersebut, Bukalapak bekerja sama dengan setidaknya 20 perusahaan produsen produk sehari-hari dan distributor besar untuk dapat menyuplai langsung pasokan kepada warung kelontong. Hal tersebut diyakini dapat memberikan harga produk yang lebih efisien kepada pemilik warung sehingga  meningkatkan omzetnya.

“Saat ini, teknologi kecerdasan buatan baru kita gunakan di aplikasi, untuk membuat personalisasi rekomendasi produk kepada pelanggan. Bukan tidak mungkin teknologi ini akan diperluas ke depannya dan dikombinasikan dengan O2O untuk memprediksi kebutuhan stok barang di gudang-gudang kami,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (18/4).

Dia menambahkan, perusahaan telah mengalokasikan investasi hingga Rp1 triliun untuk mengembangkan O2O. Dana investasi tersebut digunakan untuk pengembangan teknologi, sumber daya manusia (SDM) dan  pergudangan. Adapun sejauh ini, Bukalapak telah memiliki setidaknya 30 gudang yang berada di Jawa, Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi.

Lebih lanjut, Fajrin mengaku tak khawatir melihat kini cukup banyak platform dagang-el yang juga ekspansi ke segmen O2O. Menurutnya, Bukalapak termasuk platform dagang-el yang pertama menggarap segmen ini dengan perkembangan yang cukup signifikan.

“Kita ingin nantinya Bukalapak tidak hanya menjadi perusahan e-commerce, tetapi juga perusahaan commerce. Sejauh ini kontribusi O2O kami kepada perusahaan sudah double digit persentasenya,” ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
e-commerce

Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top