Penerapan Industri 4.0, Manufaktur Sudah Siap

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyatakan industri pengolahan dalam negeri telah siap menerapkan industri 4.0.
Andi M. Arief | 16 April 2019 08:58 WIB
ilustrasi. - ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra

Bisnis.com, JAKARTA – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyatakan industri pengolahan dalam negeri telah siap menerapkan industri 4.0.

Hal itu berdasarkan hasil penilaian mandiri pada pengusaha industri manufaktur menggunakan Indeks Indonesia Industry 4.0 Readiness atau INDI 4.0.

INDI 4.0 merupakan standar acuan untuk mengukur kesiapan perusahaan untuk bertransformasi ke era industri 4.0. Adapun, INDI 4.0 dihasilkan dari studi McKinsey & Company yang disusun menjadi beberapa indeks. Studi tersebut telah digunakan oleh beberapa negara-negara anggota World Economic Forum seperti Singapura.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartato mengatakan ada lima sektor industri yang difokuskan untuk mengimplementasikan industri 4.0 yakni otomotif, elektronik, makan dan minuman (mamin), kimia, dan tekstil dan produk tekstil. Airlangga menyatakan kelima sektor tersebut akan dijadikan sektor lighthouse atau sektor percontohan pada tahun ini.

INDI 4.0 memiliki rentang penilaian 0,0—4,0 yang berarti sudah menerapkan (4) dan belum siap (0). Adapun, perusahaan di Indonesia memiliki nilai rata-rata 2,14. "Artinya, di antara negara [anggota] Asean, Indonesia dan Vietnam itu tertinggi di atas negara-negara lain,” kata Airlangga, Senin (15/4/2019).

Sekretaris Jenderal Asosiasi Pertekstilan Indonesia Ernovian G. Ismy menyampaikan upaya penerapan industri 4.0 telah dilakukan sejak 2015. Dia mengklaim industri tekstil dapat melakukan efisiensi pada penggunaan energi, peningkatan produksi per sumber daya manusia, dan percepatan waktu produksi sekitar 15%--20%.

Namun, Ernovian menyatakan masih ada dua tantangan utama agar industri tekstil dapat mengimplementasikan industri 4.0 yakni ketersediaan bahan baku dan harmonisasi antar subsektor.

Dia mengatakan otoritas seharusnya melindungi industri hilir dan memberikan fasilitas kepada industri hulu. Namun menurutnya, otoritas justru melindungi industri hulu dan melepas industri hilir. Alhasil harga bahan baku industri serat menjadi mahal dan berdampak secara sistemik ke industri tekstil.

Sementara itu, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Adhi Lukman menyampaikan belum semua industri mamin berkesempatan melakukan penilaian menggunakan INDI 4.0. Kendati demikian, asosiasi optimistis para pelaku usaha makanan dan minuman sudah mulai mengimplementasi industri 4.0.

“Perlu implementasi menyeluruh dan lebih terintegrasi dari pengadaan, produksi, sampai distribusi,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Revolusi Industri 4.0

Editor : Galih Kurniawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top