Sejumlah Department Store Susutkan Luasannya

Pasar properti ritel di Jakarta pada kuartal I/2019 menunjukkan adanya penurunan tingkat serapan sebanyak 20.200 meter persegi.
Mutiara Nabila | 15 April 2019 18:23 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Pasar properti ritel di Jakarta pada kuartal I/2019 menunjukkan adanya penurunan serapan sebanyak 20.200 meter persegi.

Berdasarkan hasil riset Jones Lang LaSalle (JLL) Indonesia, tingkat serapan pusat belanja di Jakarta mengalami penurunan, hal ini karena pergeseran peminat terkait perkembangan teknologi informasi. Di sisi lain, belakangan ini tidak adanya pasok baru ruang ritel.

Head of Retail JLL Cecilia Santoso mengatakan bahwa dengan adanya akses ke internet, sekarang masyarakat makin mudah membuka website untuk mencari produk baru yang akan masuk ke pasar Indonesia.

Karena hal itu, beberapa toko department store banyak yang menyusutkan luasannya, seperti halnya Matahari, Metro, Centro, dan Sogo, digantikan dengan toko baru yang menyasar pasar yang lebih khusus dan toko-toko yang baru masuk ke pasar Indonesia seperti Uniqlo, H&M, dan ZARA.

Dilihat dari tingkat keterisian, dari total pasok mal sebanyak 2,9 juta meter persegi, 88,3 persen di antaranya sudah terisi. Adapun, dari sisi pasok, hingga 2023 diperkirakan akan ada tambahan pasok pusat perbelanjaan sebanyak 223.000 meter persegi.

Dari tren bisnis, Cecilia mengatakan bisnis ruang ritel masih dalam kondisi yang cukup baik karena, jika ada ruang yang kosong setelah kontrak tenant berakhir, biasanya segera terisi kembali dalam kurun waktu kurang dari satu bulan dengan jenis ritel lainnya.

“Ini kalau dibandingkan dengan tahun lalu, bisa dibilang ada peningkatan keterisian karena ada diversifikasi brand, tapi kalau dari segi lokasi, luasan, jumlahnya tetap. Hanya ada produk atau toko baru dengan tampilan yang lebih baru juga,” ungkap Cecil baru-baru ini.

Selain itu, JLL yakin tahun ini pasar ritel bisa bertumbuh lebih pesat, terutama yang terhubung atau dekat dengan MRT dan LRT. Di dalam stasiun MRT, kata Cecil, sudah banyak calon tenant yang menanyakan, apakah akan digunakan sebagai tempat makan dan minum atau fesyen.

“Dari segi harga para penawar ini tidak ada yang keberatan, karena memang kalau ritel Jakarta kan sedang kurang semangat ya beberapa tahun terakhir ini. Tapi sudah banyak yang excited untuk tahu lokasiya di mana, harganya berapa,” ungkapnya.

Selanjutnya, pembangunan MRT juga bisa memberikan nilai tambah pada bangunan yang sifatnya Transit Oriented Development (TOD). Cecil menambahkan, bangunan TOD umumnya akan punya Hub yang di dalamnya akan ada ruang ritel dan kantor, dan bisa digunakan sebagai bangunan mixed-use.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pusat belanja

Editor : M. Rochmad Purboyo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top