CEK FAKTA : Jokowi dan Sandiaga Debat Soal Defisit Neraca Dagang Awal 2019, Ini Datanya

Calon presiden nomor urut 01 Joko Widodo mengklaim defisit neraca dagang Indonesia membaik pada kuartal I/2019. Namun, calon wakil presiden nomor urut 02 Sandiaga Uno menyatakan bahwa defisit turun bukan karena turunnya impor.
Lalu Rahadian | 13 April 2019 22:46 WIB
Pasangan capres-cawapres nomor urut 01 Joko Widodo (kedua kiri) dan Ma'ruf Amin (kiri) serta pasangan nomor urut 02 Prabowo Subianto (kedua kanan) dan Sandiaga Uno (kanan) bersiap mengikuti debat kelima Pilpres 2019 di Hotel Sultan, Jakarta, Sabtu (13/4/2019). - ANTARA FOTO/Wahyu Putro

Bisnis.com, JAKARTA -- Calon presiden nomor urut 01 Joko Widodo menyatakan defisit neraca perdagangan Indonesia pada kuartal I/2019 telah berkurang.

Pernyataan itu disampaikannya dalam debat putaran terakhir menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 yang digelar di Hotel Sultan, Jakarta, Sabtu (13/4/2019).

“Data terbaru pada 2018 memang neraca kita defisit kurang lebih US$8 miliar. Tapi, kuartal pertama tahun ini nilai defisit turun US$0,67 miliar. Artinya, usaha kita menekan defisit bukan main-main,” ujar Jokowi.

Pernyataan itu ditanggapi calon wakil presiden (cawapres) nomor urut 02 Sandiaga Uno, yang mengatakan bahwa defisit neraca perdagangan Indonesia pada Februari 2019 tak terjadi karena impor turun.

“Dengan defisit yang terus dihadapi sekarang, Februari [2019] defisit turun karena impor turun, dan impor turun karena bahan-bahan untuk proses produksi kita,” tuturnya.

Hingga debat kelima berlangsung, data terkait neraca perdagangan Indonesia kuartal I/2019 belum dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Data itu rencananya baru dikeluarkan pada Senin (15/4).

Namun, pada Februari 2019, neraca dagang Indonesia tercatat surplus US$0,33 miliar. BPS mencatat nilai ekspor Februari 2019 mencapai US$12,53 miliar dan impor sekitar US$12,2 miliar, atau turun 18,61% dibandingkan Januari 2019.

Dari penggunaannya, impor konsumsi mengalami penurunan 17,43% menjadi US$1,01 miliar dibandingkan Januari 2019. Secara tahunan, impor barang konsumsi juga turun cukup dalam, yakni hingga 26,94%.

Khusus impor barang baku dan bahan penolong, nilainya menyusut 21,11% menjadi US$9,01 miliar dibandingkan Januari 2019. Sementara itu, impor barang modal tercatat terpangkas 7,09% menjadi US$2,19 miliar dibandingkan bulan sebelumnya.

Surplus pada Februari 2019 menjadi nilai positif neraca perdagangan pertama setelah 4 bulan berada di zona merah. Sejak Oktober 2018 hingga Januari 2019, neraca perdagangan Indonesia defisit di kisaran US$1,03 miliar hingga US$2 miliar.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Neraca Perdagangan, Debat Capres

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup