Sarpatim Tarik Masyarakat Bangun Hutan Produksi

PT Sarmiento Parakantja Timber (Sarpatim) melakukan program membangun hutan produksi bersama masyarakat (MHPBM).
Nur Faizah Al Bahriyatul Baqiroh
Nur Faizah Al Bahriyatul Baqiroh - Bisnis.com 03 April 2019  |  07:45 WIB
Sarpatim Tarik Masyarakat Bangun Hutan Produksi
Ilustrasi hutan tanaman industri - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - PT Sarmiento Parakantja Timber (Sarpatim) melakukan program membangun hutan produksi bersama masyarakat (MHPBM).

Untung Agus Pramono, Manager Pembinaan Hutan Sarpatim mengatakan program tersebut merupakan upaya meningkatkan produktivitas areal hutan khususnya di areal kerja mereka.

“Karena kondisi [konsesi] hutan kami ini, sekitar 30% -nya merupakan areal garapan masyarakat yang dulu dikenal sebagai ladang, nah ini kami punya tanggung jawab untuk meningkatkan produktivitasnya  dalam rangka peningkatan pendapatan bagi negara dan untuk perusahaan,” katanya kepada Bisnis, Selasa (2/3/2019).

Untung mengatakan areal garapan masyarakat yang kini Sarpatim garap bersama masyarakat seluas 600 hektare. Di mana pihaknya menyadari bahwa keberadaan masyarakat di areal konsesi hutan tersebut sudah ada sebelum Sarpatim hadir.

Oleh karena itu, pihaknya mengajak masyarakat untuk mengelola ladang tersebut dan berperan sebagai offtaker dengan skema bagi hasil keuntungan sebesar 50:50.

“Dalam hal ini kami gunakan jenis [tanaman] fast growing, kami coba pada tahun-tahun pertama [sekitar tahun 2011-an], menanam pohon  Jabon, kemudian pada 2013 kami menanam padi gogo, itu [sudah panen] hasilnya lumayan,” tuturnya.

Untuk panen kayu Jabon secara selektif pada 2017, Untung menyatakan produksinya mencapai 60m3/hektare dengan nilai jual per m3 Rp1 juta.

Ke depan, Untung mengatakan pihaknya akan mencoba menanam sereh wangi karena masa panennya yang pendek (6 bulan) serta bisa meningkatkan kelembaban tanah. “Sehingga, bisa mengurangi atau mengembalikan kebakaran hutan dan lahan,” tandasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
industri kehutanan, hutan produksi

Editor : M. Rochmad Purboyo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top