Konversi Citarum: Sungai Mati Ditata Ulang

Perum Jasa Tirta II  (PJT II) melakukan penataan sungai mati atau oxbow di Kabupaten Bandung guna mendukung konservasi sumber daya air di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum. Kelestarian Sungai Citarum perlu dijaga karena menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat luas.
Rivki Maulana
Rivki Maulana - Bisnis.com 29 Maret 2019  |  18:26 WIB
Konversi Citarum: Sungai Mati Ditata Ulang
Situ Cisanti, Kabupaten Bandung. Situ ini merupakan sumber air dari Sungai Citarum yang mengalir sepanjang 270 kilometer, dari Bandung hingga Muara Gembong di Bekasi. - Foto: Perum Jasa Tirta II

Bisnis.com, JAKARTA – Perum Jasa Tirta II  (PJT II) melakukan penataan sungai mati atau oxbow di Kabupaten Bandung guna mendukung konservasi sumber daya air di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum. Kelestarian Sungai Citarum perlu dijaga karena menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat luas.

Direktur Utama PJT II, U. Saefudin Noer mengatakan penataan sungai mati di DAS Citarum dilakukan untuk mengurangi potensi banjir. Dia menambahkan, air yang mengalir dari sungai dibuka aksesnya untuk dialirkan ke inbox untuk kemudian menjadi penampung air saat musim hujan tiba.

"Penataan Oxbow juga membuat lingkungan menjadi lebih indah dan bersih sehingga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk pertanian atau perikanan," jelas Saefudin, Jumat (29/3/2019).

Untuk diketahui, PJT II merupakan badan usaha milik negara (BUMN) yang mengelola Bendungan Juanda, Purwakarta.Berdasarkan Laporan Tahunan PJT II 2017, PJT II mengelola air dari Bendungan Jatiluhur sebanyak 8 miliar meter kubik per tahun. Air sebanyak itu dialirkan untuk kebutuhan irigasi pertanian hingga air baku untuk industri dan rumah tangga. Sebanyak 80% kebutuhan air bersih di Jakarta, dipasok dari Bendungan Juanda.

Selain di hulu Sungai Citarum,  PJT II juga menginisiasi program alih limbah dengan membuat biogas dan pupuk organik. Saefudin menerangkan, program alih limbah diharapkan bisa mengurangi pencemaran  akibat pembuangan kotoran sapi ke Sungai Citarum dan anak sungainya.

Dalam program tersebut, PJT II bekerja sama dengan Rumah Energi  35 unit reaktor biogas untuk para peternak sapi di wilayah hulu Citarum. Reaktor itu dimanfaatkan untuk mengolah kotoran 325 ekor sapi milik para peternak. Pemanfaatan limbah kotoran sapi untuk biogas di sisi lain juga memberikan manfaat ekonomi bagi peternak.

Di hilir Sungai Citarum, PJT II juga terlibat dalam konsevasi sumber daya air dalam bentuk penataan keramba jaring apung, penaataan sungai mati dan perikanan tangkap berbasis budidaya. Saefudin menekankan sumber daya air merupakan denyut nadi kehidupan dan peradaban manusia sehingga keberadaannya harus dilestarikan. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
sungai citarum

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top