PWI Gandeng Gapki Adakan Seminar Tentang Sawit

Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) mengadakan seminar pengembangan industri kelapa sawit menuju kemandirian energi.
Nur Faizah Al Bahriyatul Baqiroh | 27 Maret 2019 19:30 WIB
Petani memindahkan kelapa sawit hasil panen ke atas truk di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (4/4/2018). - JIBI/Rachman

Bisnis.com, JAKARTA - Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) mengadakan seminar pengembangan industri kelapa sawit menuju kemandirian energi.

Atal Depati, Ketua Umum PWI, menyampaikan seminar ini dilakukan sebagai bentuk kolaborasi antara PWI dengan para pelaku industri, dalam hal ini yang diwakili oleh Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki). 

"Saya berharap agar kegiatan-kegiatan seperti ini terus dilakukan secara berkesinambungan agar peran wartawan atau media benar-benar dapat dirasakan kehadirannya di negeri ini di tengah gencarnya arus disrupsi terhadap media akibat kemajuan teknologi," tutur Atal dalam sambutannya, Rabu (27/3).

Atal menyampaikan peran industri kelapa sawit yang banyak memberikan kontribusinya kepada masyarakat dan negara. 

Dia menilai pemahaman terkait kelapa sawit akan antar kunci kemajuan bersama antara media dan para pelaku industri perkebunan penyumbang devisa terbesar dari sektor agribisnis tersebut.

"Industri kelapa sawit merupakan industri yang memberikan dampak yang baik pada perekonomian nasional. Ada sekitar 20 juta masyarakat Indonesia yang terkait langsung dengan industri ini, termasuk petani yang jumlahnya 40% dari pelaku industri sawit.  Sawit juga memberikan devisa terbesar bagi komponen ekspor Indonesia," jelas Atal.

Akan tetapi, saat ini industri kelapa sawit sedang terusik dengan adanya keputusan dari Komisi Uni Eropa pada 13 Maret yang dinilai mendiskriminasikan sawit. "Syukurlah Pemerintah kita dan Pemerintah Malaysia sebagai produsen sawit terbesar dunia dengan gagah berani siap melawan isu ini," lanjutnya.

Atal menilai, seharusnya minyak sawit juga mendapatkan perlakuan yang setara dengan minyak nabati lainnya seperti minyak kedelai, minyak bunga matahari dan sebagainya.

Menurut penilaian Joko Supriyono, Indonesia masih sulit mengembangkan produksi minyak nabati disebabkan masalah yang mendasar salah satunya mengenai sudut pandang definisi.

“Banyak hal yang tidak sejalan mengenai definisi maupun pengertian dari deforestasi, yang menjadi cikal bakal pengembangan Kawasan. Antara definisi FAO dengan kebijakan pemerintah belum satu garis dalam melihat definisi hutan misalnya," tuturnya.

Menko Bidang Kemaritiman RI Luhut Binsar Panjaitan yang menjadi keynote speaker berharap seminar yang diadakan PWI ini dapat membangkitkan nasionalisme.

"Melalui industri sawit yang dijalankan pemerintah saat ini, ekonomi Indonesia akan terus bertumbuh dan menatap optimis masa depannya. Bahkan di tahun 2030 – 2050, Indonesia diproyeksikan menjadi kekuatan ekonomi terbesar ke-5 di dunia," tegas Luhut.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perkebunan, kelapa sawit

Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top