Industri China Catat Keuntungan Terburuk Sejak 2011

Sektor industri China mengawali tahun 2019 dengan catatan keuntungan terburuk sejak 2011 bersamaan dengan pelemahan ekonomi akibat rendahnya permintaan domestik maupun luar negeri.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 27 Maret 2019  |  14:29 WIB
Industri China Catat Keuntungan Terburuk Sejak 2011
Manufaktur China - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Sektor industri China mengawali tahun 2019 dengan catatan keuntungan terburuk sejak 2011 bersamaan dengan pelemahan ekonomi akibat rendahnya permintaan domestik maupun luar negeri.

Biro Statistik Nasional (NBS) China mengumumkan keuntungan yang diperoleh sektor industri pada Januari - Februari turun 14% secara tahunan menjadi 708,01 miliar yuan atau sekitar US$105,50 miliar. 

Data ini merupakan angka gabungan dari periode Januari dan Februari untuk meminimalisasi distorsi yang disebabkan oleh libur Tahun Baru Imlek selama sepekan pada awal Februari.

Penurunan keuntungan yang tajam menunjukkan potensi risiko tambahan bagi ekonomi terbesar kedua di dunia, yang tumbuh pada laju paling lambat sejak 30 tahun terakhir pada 2018.

Pemerintah China bahkan telah memitigasi perlambatan ekonomi dengan memangkas target pertumbuhan dari 6,6% pada 2018 menjadi 6% - 6,5% untuk target 2019.

"Perlambatan tersebut sebagian besar disebabkan oleh kontraksi pada sektor-sektor industri utama seperti otomotif, pengolahan minyak, industri baja dan kimia. Kegiatan produksi serta penjualan juga tercatat melambat," ujar Zhu Hong yang mewakili biro statistik pada sebuah pernyataan, seperti dikutip melalui Reuters, Rabu (27/3).

Berdasarkan data resmi pemerintah China, keuntungan pada sektor otomotif turun sebesar 37,1 miliar yuan jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, sementara industri pengolahan minyak turun 31,7 miliar yuan.

Zhu mengatakan bahwa libur Tahun Baru Imlek yang jatuh pada 4 - 10 Februari, turut memberikan dampak negatif terhadap operasional bisnis yang lebih besar jika dibandingkan dengan 2018.

Perang dagang dengan Amerika Serikat juga telah mempengaruhi intensitas aktivitas pabrik, pendatapan perusahaan, sentimen bisnis dan konsumsi secara keseluruhan yang berdampak pada prospek ekonomi.

Pertumbuhan output manufaktur China merosot ke level terendah 17-tahun pada Januari-Februari, sementara inflasi pabrik (factory-gate inflation) pada periode yang sama tetap lemah karena  ketegangan ekonomi yang semakin dalam di seluruh negeri.

"Meskipun mungkin AS dan China dapat mencapai kesepakatan perdagangan dalam waktu dekat, belum ada jaminan bahwa itu [kesepakatan[ akan membantu membalikkan penurunan ekspor China," kata Betty Wang, ekonom senior China di ANZ.

Wang menambahkan bahwa selain dari faktor perang dagang, permintaan global yang berkurang juga harus menjadi perhatian.

Para pembuat kebijakan telah mengakui ekonomi negara itu menghadapi peningkatan tekanan ke bawah akibat kampanye multi-tahunan untuk mengekang risiko utang dan polusi udara.

Di sisi lain, selisih perdagangan dengan Amerika Serikat mempengaruhi pesanan ekspor dan pasar tenaga kerja China.

Beijing sedang meningkatkan langkah-langkah untuk mendukung industri manufaktur dengan memotong pajak pertambahan nilai, meningkatkan pengeluaran infrastruktur dan mengurangi intervensi langsung pemerintah.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekonomi china

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top