BKPM Dorong Relaksasi Investasi Asing di Sektor Pendidikan Tinggi & RS

Badan Koordinasi Penanaman Modal bersikukuh mendorong relaksasi investasi asing di sektor jasa, terutama perguruan tinggi dan rumah sakit, pasca Pemilihan Umum.
Hadijah Alaydrus
Hadijah Alaydrus - Bisnis.com 13 Februari 2019  |  20:06 WIB
BKPM Dorong Relaksasi Investasi Asing di Sektor Pendidikan Tinggi & RS
Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Thomas Lembong. - Bisnis/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA--Badan Koordinasi Penanaman Modal bersikukuh mendorong relaksasi investasi asing di sektor jasa, terutama perguruan tinggi dan rumah sakit, pasca Pemilihan Umum.
 
Upaya ini dilakukan dalam rangka meningkatkan realisasi investasi dan memupuk devisa yang kabur ke luar negeri akibat banyaknya masyarakat yang mencari jasa pendidikan dan kesehatan di negara lain.
 
Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas T. Lembong mengungkapkan sebenarnya sektor jasa di Tanah Air tumbuh sangat baik di tengah gejolak perang dagang dan perlambatan ekonomi global. Dalam pertumbuhan PDB, sektor-sektor jasa tumbuh hampir dua digit. Sementara itu, sektor manufaktur cenderung melempem. 
 
Sayangnya, sektor jasa ini sangat tertutup jika dibandingkan dengan sektor manufaktur. Alhasil, hal ini menghambat pertumbuhan investasi di sektor tersebut. 
 
"Kalau sektor ini yang tertutup bisa kita buka itu potensi dampak positifnya luar biasa," kata Lembong dalam acara forum Mandiri Investasi, Rabu (13/2).
 
Secara penghasilan, sektor jasa ini lebih padat karya jika dibandingkan sektor manufaktur yang semakin dihiasi oleh mesin dan robot (otomasi). Dari sisi perdagangan, Thomas melihat defisit perdagangan jasa juga sangat besar. Kendati, terobosan di sektor pariwisata yang masuk dalam perdagangan jasa sudah sangat baik. 
 
Ke depannya, BKPM berencana untuk membuka peluang investasi di sektor perguruan tinggi dan rumah sakit. "Kami ingin membuka sektor universitas dari sekarang 0% yang diperbolehkan dari luar negeri menjadi 67% dan 100%," kata Thomas. 
 
Detailnya yaitu relaksasi daftar negatif investasi dari 0% menjadi 100% bagi investasi di bidang pendidikan tinggi di dalam kawasan ekonomi. Sementara itu, investasi di luar kawasan ekonomi hanya akan diperbolehkan sebesar 67%.
 
Menurutnya, BKPM sudah banyak menerima peminat dari Australia untuk mendirikan cabang kampus di Indonesia. Ini merupakan kesempatan yang besar. Ratusan ribu mahasiswa Indonesia tiap tahunnya pergi ke luar negeri untuk mencari pendidikan yang bermutu. Kegiatan ini cukup menguras devisa. 
 
"Ini adalah peluang yang luar biasa untuk deregulasi dan opening dengan dampak yang signifikan untuk neraca perdagangan dan neraca pembayaran," paparnya. 
 
Di sektor rumah sakit, BKPM melihat investasi asing masih sangat terbatas sehingga pasokan jumlah rumah sakit di Indonesia sangat kurang. Buktinya, puluhan ribu masyarakat Indonesia terbang ke luar negeri untuk berobat. Fenomena saat ini, kata Lembong, kelas menegah juga rela terbang ke Penang untuk mencari rumah sakit. Padahal, kegiatan ini juga menguras devisa. 
 
Namun, Thomas tidak menyampaikan berapa persen relaksasi yang akan dibuka untuk sektor rumah sakit tersebut. Dia juga mengungkapkan rencana ini baru bisa berjalan pasca Pemilu agar lebih kondusif. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bkpm

Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top