BERAS KITA: Bulog harus Berani Berpromosi di Ritel Modern

Peritel modern berharap Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Bulog) mau bekerja sama dalam mengelola beras premiumnya, sehingga peyaluran beras premium di pasar ritel modern bisa ditingkatkan.
M. Richard | 03 Januari 2019 21:02 WIB
Pekerja memegang beras Bulog kualitas super kemasan 5 kilogram di Gudang Bulog Serang, Banten, Selasa (16/5). - Antara/Asep Fathulrahman

Bisnis.com JAKARTA -- Peritel modern berharap Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Bulog) mau bekerja sama dalam mengelola beras premiumnya, sehingga peyaluran beras premium di pasar ritel modern bisa ditingkatkan.

Vice President Corporate Communications Transmart Carrefour Satria Hamid mengatakan beras premium Bulog memiliki kualitas yang baik, tetapi dikarenakan masih minimnya pengelolaan, membuat pelanggan masih enggan memilih beras premium Bulog.

"Beras premium Bulog itu berkualitas, sama seperti beras berkualitas lainnya. Cuma Bulog memang harus mau bekerja sama dengan kami peritel modern untuk dapat memperkenalkannya lebih baik lagi," ucapnya kepada Bisnis, Kamis (3/1/2019).

Menurutnya, Bulog saat ini masih tergolong pasif dalam mengembangkan beras premiumnya, dan bahkan terlihat berpuas diri dengan hanya menempatkan berasnya di ritel modern.

Bulog, lanjutnya harus mau mencoba menggunakan jasa sales promotion girl, mengadakan kontes masak, atau segala hal yang terkait upaya pembangunan merek.

Dengan begitu, katanya, masyarakat bisa mengetahui kualitas dari beras Bulog. "Beras Bulog itu bagus, Bahkan nama Bulog itu saja sudah cukup untuk dijadikan Brand. Namun, memang harus ada upaya-upaya ekstra, karena membangun brand tidak mudah," katanya.

Selain itu, Satria mengatakan, Bulog juga harus memperbaiki sistem birokrasi jika ingin menigkatkan daya saingnya di pasar beras komersial.

Saat ini, dia menjelaskan, pemesanan kembali beras premium Bulog masih rumit, karena harus mendapatkan beberapa persetujuan pejabat-pejabat tinggi Bulog. Hal tesebut menjadi penghambat bagi kelancaran arus logitik beras itu sendiri.

Meski demikian, Satria optimistis Bulog memiliki potensi yang cukup besar untuk dapat memperbesar penetrasi di pasar beras komersil.

"Jika sudah bisa memperbaiki ini, Bulog kan bisa mendapat keuntungan, dan bisa memperbaiki keuangan perusahaan," ujarnya.

Senada, Koordinator Komisi Komunikasi & Edukasi Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) Arief Safari mengatakan Bulog harus mulai fokus pada penggarapan beras premiumnya.

Pasalnya, cadangan beras pemerintah perlahan tidak akan lagi menjadi pilihan dan tidak akan efektif mengendalikan harga beras, karena masyarakat beralih ke beras-beras yang berkualitas.

"Beras itu bukan lagi komoditas, di mana jenis beras harus IR semua. Ekonomi masyarakat perlahan berkembang, dan Bulog sudah harus serius menggarap beras premiumnya, dan brand itu harus dibangun," ucapnya.

Meski demikian, Arief mengapresiasi Bulog yang telah mulai membuat brand sendiri untuk beras premiumnya.

Namun, ucapnya, Bulog juga harus dapat melakukan penyesuaian dalam bentuk kemasan. "Harus ada kemasan yang lebih kecil karena konsumen ingin memasak beras yang selalu baru atau lebih terjangkau dibanding beli dengan kemasan berat yang besar."

Selain itu, katanya, Bulog juga harus mulai diversifikasi beras premiumnya. Minimal dua jenis beras yang memang disuikai masyarakat.

Sebelumnya, Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Bulog Tri Wahyudi Saleh mengatakan pihaknya sudah mulai serius dalam mengembangan merek dengan memperkenalkan "Beras Kita" pada 2016.

Hanya saja, jelasnya, perusahaan tidak bisa langsung memperluas kegaitan tersebut ke setiap produknya dengan alasan finansial.

Tag : beras bulog
Editor : M. Rochmad Purboyo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top