Daya Beli Negara Importir Masih Lesu, Ekspor CPO Indonesia Tertekan

Tren pelemahan ekspor minyak sawit masih berlanjut, seiring dengan penurunan daya beli sejumlah negara pengimpor utama.
Yanita Petriella | 08 November 2018 14:31 WIB
Petani memindahkan kelapa sawit hasil panen ke atas truk di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (4/4/2018). - JIBI/Rachman

Bisnis.com, JAKARTA — Tren pelemahan ekspor minyak sawit masih berlanjut, seiring dengan penurunan daya beli sejumlah negara pengimpor utama.

Laporan terbaru Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) memaparkan, ekspor minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) dan produk turunannya pada September 2018 hanya 3,2 juta ton, turun 3% dari bulan sebelumnya.

“Rendahnya harga CPO global tidak berhasil menjadi magnet yang kuat kepada negara pengimpor karena harga minyak nabati lain juga sedang murah, terutama minyak rape, kedelai, dan biji bunga matahari,” jelas Direktur Eksekutif Gapki Mukti Sardjono dalam laporan bulanannya yang dilansir Rabu (7/11/2018).

Dia menambahkan, volume ekspor CPO dan produk turunannya—tidak termasuk oleokimia dan biosolar—pada September 2018 hanya 2,99 juta ton atau stagnan dengan kecenderungan menurun dari bulan sebelumnya.

Secara kumulatif tahunan, kinerja ekspor CPO dan produk turunannya sepanjang Januari—September 2018 mencapai 22,95 juta ton alias turun 1% dari rentang yang sama tahun lalu.

Menurut Mukti, pasar minyak sawit global memang sedang lesu karena Argentina—selaku salah satu negara penghasil minyak nabati berbasis kedelai terbesar di dunia—tengah mengurangi pajak ekspor kedelai guna menarik pembeli.

Pada saat bersamaan, produksi minyak sawit—terutama dari Indonesia dan Malaysia—sedang meningkat. Dia menilai kondisi tersebut memperburuk situasi, sehingga stok minyak nabati menumpuk di dalam negeri.

Menurut data Gapki, India masih menjadi importir terbesar CPO asal Indonesia pada September 2018, dengan volume pembelian sejumlah 77.440 ton. Meskipun demikian, pengapalan minyak sawit ke India turun 5% dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

“Baru-baru ini Pemerintah India melansir kebijakan biofuel dengan target pencampuran bensin 20% untuk etanol dan 5% pencampuran solar untuk biodiesel pada 2030. Kebijakan ini ternyata membuka peluang pasar lebih besar bagi ekspor CPO Indonesia,” kata Mukti.

Untuk itu, dia berharap pemerintah memberikan perhatian khusus bagi pasar CPO di India, terutama terkait dengan isu bea masuk. Pasalnya, India memberikan tarif rendah bagi minyak sawit Malaysia, yaitu 5% untuk CPO dan produk turunannya, berkat kesepakatan perdagangan bebas (free trade agreement/FTA) antarkedua negara.

“Peluang Indonesia untuk mengisi kebutuhan minyak sawit India akan terus tergerus bila tidak ada langkah meningkatkan perdagangan, baik melalui perjanjian bilateral maupun perjanjian perdagangan khusus,” tegas Mukti.

Di sisi lain, ekspor CPO ke China, Pakistan, Amerika Serikat, dan Timur Tengah juga mengalami tren penurunan secara month to month pada September 2018, yaitu berturut-turut -25%, -24%, -50%, dan -21%.

Ekspor CPO ke Uni Eropa, Bangladesh, dan negara-negara Afrika pada rentang yang sama justru naik masing-masing 16%, 155%, dan 47%. Menurut Mukti, kenaikan tersebut adalah hal yang wajar karena bulan sebelumnya terjadi penurunan.

“Pada September sudah tidak ada lagi panen minyak rape dan biji bunga matahari di Eropa dan kawasan tersebut sudah mau memasuki musim dingin. Khusus untuk produk minyak goreng, ekspor ke Afrika terus naik konsisten setiap bulannya.”

PERLUAS PASAR

Sementara itu, di tengah harga CPO dan stok minyak sawit yang melimpah di dalam negeri, pemerintah terus disarankan untuk memacu perluasan pangsa pasar ke Afrika, Timur Tengah, dan Amerika Latin.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Ahmad Heri Firdaus mengatakan harga CPO yang masih rendah saat ini sangat berpengaruh pada nilai ekspor minyak sawit.

Sepanjang September 2018 harga CPO bergerak di kisaran US$517.50 hingga US$570 per ton dengan harga rerata US$ 546.90 per ton.

“Rendahnya harga ini sangat memberi pengaruh pada nilai ekspor kelapa sawit, meski secara volume mengalami peningkatan. Pada akhir tahun ini, diperkirakan nilai ekspor CPO lebih rendah dibandingkan dengan tahun lalu,” ujarnya saat dihubungi Bisnis, Rabu (7/11).

Menurutnya, salah satu caranya agar stok minyak sawit Indonesia yang melimpah dapat terserap adalah dengan memperbesar kue pasar ekspor ke negara-negara importir tradisional dan pasar baru.

Di Afrika sendiri, tuturnya, kebutuhan pangannya terus membesar, sehingga sehingga Indonesia dapat memanfaatkan momentum tersebut dengan memperbesar ekspor margarin dan minyak goreng ke benua tersebut.

Namun, lanjutnya, pemerintah dan para pengusaha sawit harus terlebih dahulu melakukan riset karena negara-negara di Afrika cenderung lebih menyukai minyak goreng dalam kemasan ketimbang curah.

“Negara yang belum dijajaki dan pangsa ekspornya masih kecil perlu diperbesar. Untuk India sendiri, pangsa pasar CPO kita masih kecil dan ini dapat diperbesar,” katanya. 

Selain itu, dia mengusulakn agar pemerintah dapat terus menggenjot permintaan domestik Tanah Air untuk mengurangi stok minyak sawit yang ada. Salah satu langkah strategis yang paling memungkinkan adalah terus mendorong penyerapan penggunaan biodiesel B20 di dalam negeri.

Selain itu, pemerintah diminta mempercepat pelaksanaan mandatori B30 dan pembuatan bioavtur untuk pesawat terbang serta biobensin untuk kendaraan bermotor.

Tag : ekspor cpo
Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top