Tol Laut, Pemerintah Operasikan Trayek Bitung

Pemerintah mengoperasikan trayek Tol Laut rute Bitung (T-17) mulai pekan lalu yang memasok bahan pokok dan memuat hasil bumi ke dan dari kabupaten di sepanjang Teluk Tomini.
Sri Mas Sari | 04 November 2018 16:58 WIB
Sejumlah penumpang menunggu keberangkatan Kapal Perintis KM Sabuk Nusantara 35 di Pelabuhan Jetty Meulaboh, Aceh Barat, Aceh, Sabtu (14/10). Kapal itu termasuk dalam program Tol Laut. - Antara/Syifa Yulinnas

Bisnis.com, JAKARTA -- Pemerintah mulai mengoperasikan trayek Tol Laut rute Bitung (T-17) yang memasok bahan pokok dan memuat hasil bumi ke dan dari kabupaten di sepanjang Teluk Tomini.

T-17 yang dilayani oleh KM Kendhaga Nusantara 13 dengan operator PT Djakarta Lloyd itu melintasi ruas Bitung-Tilamuta-Parigi-Poso- Ampana-Bunta-Pagimana-Bitung.

Trayek tersebut merupakan penghubung atau feeder bagi trayek Tanjung Perak-Makassar-Tahuna-Tanjung Perak (T-4) yang dioperasikan Pelni menggunakan KM Logistik Nusantara I. Dengan feeder itu, masyarakat di Sulawesi Tengah tidak perlu menjual hasil buminya ke Makassar, Sulawesi Selatan.

Nurhaeda, Tim Marketing National Support Kalla Logistic, mengatakan sejumlah kabupaten di Sulteng merupakan sentra produksi kopra.  Kalla Logistic merupakan sayap bisnis Kalla Group yang membantu menghimpun kargo tol laut di Sulawesi.

"Kapal tol laut hari ini [Sabtu, 3/11/2018] telah masuk Kabupaten Parigi Moutong, Pelabuhan Tinombo Sulteng. Jarak sekitar 400 km dari Kota Palu," katanya kepada Bisnis.com, Sabtu (3/11/2018).

Bupati Parigi Moutong Samsurizal Tombolotutu berharap tol laut yang melintasi wilayahnya dapat menghidupkan kembali perdagangan di Pelabuhan Tinombo yang pada masa pemerintahan Belanda menjadi pusat perdagangan antarpulau. 

"Dengan adanya tol laut ini, hasil pertanian, perkebunan, dan perdagangan dari Parigi Moutong bisa terjual sampai ke seluruh pelosok Indonesia," ujarnya dalam keterangan resmi. 

Parigi Moutong merupakan lumbung beras di Indonesia timur dengan produksi setiap tahun bisa mencapai 200.000 ton. Hasil panen biasanya dipasok hingga ke Gorontalo, Sulawesi Utara, Maluku Utara, dan Papua. Untuk pengapalan perdana menggunakan kapal tol laut, 16 ton beras dimuat dari Tinombo.  "Mudahan-mudahan dengan adanya tol laut ini, tidak perlu jauh-jauh lagi ke Sulawesi Selatan," ujar Samsurizal. 

Dia menjelaskan Kabupaten Parigi Moutong memiliki empat pelabuhan, yakni tiga pelabuhan niaga dan satu pelabuhan penyeberangan. Di antara tiga pelabuhan niaga yang ada, Tinombo merupakan pelabuhan alam terbaik di Teluk Tomini dan paling memenuhi syarat untuk tol laut.

Sementara itu, Kepala Cabang PT Djakarta Lloyd Bitung Hadidjah Ahmad menjelaskan KM Kendhaga Nusantara 13 berkapasitas 25 ton atau 100 boks kontainer ukuran 20 kaki yang dua unit di antaranya dilengkapi pendingin (reefer container).

Dengam subsidi yang disuntikkan pemerintah, pelaku usaha hanya membayar biaya pengangkutan separuh dari tarif komersial. "Silakan pelaku usaha memanfaatkan tol laut ini," tuturnya. 

Trayek Bitung merupakan satu dari tiga trayek feeder yang dibuka pemerintah di Sulawesi menjelang pengujung tahun ini. Dua trayek lainnya berpangkalan di Makassar dan Kendari.  Tiga trayek baru itu diadakan untuk agar dapat memuat komoditas dari pelabuhan-pelabuhan yang tidak dapat disandari kapal utama tol laut. Langkah ini sekaligus untuk mengerek muatan balik kapal yang selama ini tingkat keterisiannya rendah. 

Dari ketiga trayek, baru Kendari dan Bitung yang sudah beroperasi. Dengan tiga trayek baru yang dioperasikan Djakarta Lloyd itu, maka hingga akhir 2018, pemerintah membuka 18 trayek tol laut. 

Tag : Tol Laut
Editor : Hendra Wibawa

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top