Pemerintah Kebut Pengembangan Kawasan Industri Weda Bay

Pemerintah berupaya mempercepat pengembangan Kawasan Industri Weda Bay di Halmahera Tengah, Maluku Utara.
Annisa Sulistyo Rini | 04 November 2018 22:06 WIB
Pekerja melakukan proses pemurnian dari nikel menjadi feronikel di fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) Pomalaa milik PT Aneka Tambang (ANTAM) Tbk, di Kolaka, Sulawesi Tenggara, Selasa (8/5/2018). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA--Pemerintah berupaya mempercepat pengembangan Kawasan Industri Weda Bay di Halmahera Tengah, Maluku Utara.

Direktur Pengembangan Wilayah Industri I Kementerian Perindustrian Arus Gunawan mengatakan pada rapat koordinasi yang digelar di Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Jumat (2/11/2018) lalu, dibahas beberapa pengembangan fasilitas Kawasan Industri Weda Bay.

KI Weda Bay bakal menjadi pusat industri terintegrasi feronikel, stainless steel, baja karbon, dan produk hilirnya.

"Beberapa yang dibahas terkait dukungan energi listrik, pelabuhan, kemudian penyiapan tenaga kerja. Juga tentang lahan, menyangkut kesiapan pemerintah daerah serta dukungan keamanan," ujarnya akhir pekan lalu.

Pengembangan KI Weda Bay direncanakan seluas 2.000 hektare dan saat ini telah dibebaskan sekitar 75%-nya. Arus menuturkan sisa 25% akan dipercepat oleh pemerintah daerah bekerja sama dengan pihak kepolisian dan militer untuk keamanan. Pembebasan lahan ini diproyeksikan bisa rampung tahun depan.

"Sekarang persiapan konstruksi dan produksi, selanjutnya 2020 diharapkan bisa sudah selesai semua," katanya.

Terkait sumber energi, PLN bakal menyuplai untuk luar kawasan industri, sedangkan untuk menyokong kebutuhan produksi, investor memilih untuk membangun powerplant sendiri dengan kapasitas sebesar 1.000 megawatt.

Bupati Halmahera Tengah Edi Langkara menambahkan pada rapat koordinasi tersebut, pemda berharap pemerintah pusat segera menentukan tugas-tugas bagi daerah. Pemda, katanya, tidak ingin hanya menjadi penonton, tetapi juga menjadi partner dalam pengembangan KI Weda Bay melalui perusahaan daerah.

"Kami ingin poin-poin yang menjadi posisi daerah itu juga digambarkan secara cepat, seperti soal pengelolaan kawasan, permukiman, air minum, air bersih. Juga sejumlah industri turunannya yang akan bermitra dengan perusahaan daerah, sehingga daerah tidak hanya jadi penonton, tetapi juga turut bagian sebagai partner di dalam investasi itu," jelasnya.

Selain itu, pihaknya juga menyampaikan agar bandara komersial milik pemda bisa didukung pengembangannya bersama dengan bandara khusus industri.

"Kami juga ingin bisa cepat pembangunan pelabuhan untuk mendukung industri karena saat ini belum ada. Percepatan ini harus terkoordinasi," kata Edi.

Adapun, berdasarkan rilis resmi PT Indonesia Weda Bay Industrial Park, perusahaan ini merupakan perusahaan patungan dari 3 investor asal China, yaitu Tsingshan, Huayou, dan Zhenshi.

Kawasan Industri Weda Bay merupakan realisasi dari perjanjian antara Eramet Group (Prancis) dan Tsingshan, bersama partner lokal, yaitu PT Aneka Tambang Tbk. pada 2018, untuk mengembangkan deposit bijih nikel dan 30kt/Ni Nickel Pig Iron smelter sebagai smelter pertama di dalam KI Weda Bay.

IWIP diklaim bakal menjadi kawasan industri terpadu pertama di dunia yang mengolah sumber daya mineral dari mulut tambang menjadi produk akhir berupa besi baja dan baterai dan kendaraan listrik.

Selain memfasilitasi kegiatan pemurnian logam, kawasan industri ini juga bertujuan untuk menarik berbagai kalangan investor untuk membangun fasilitas pengolahan industri hilir, meliputi nickel sulfate (NiS)4), NCM/NCA, precursor, sampai menghasilkan produk akhir berupa Li-ion baterai untuk kendaraan listrik.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kawasan industri

Editor : Maftuh Ihsan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top