Ini 6 Isu Penting Indonesia di Our Ocean Conference

Sejumlah isu penting dibawa Indonesia dalam Our Ocean Conference 2018 selama dua hari di Bali yang salah satunya yakni mengenai Marine Polution atau persoalan sampah plastik di laut.
Eka Wiratmini | 28 Oktober 2018 12:39 WIB
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi (kiri) dan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti berpose, usai memberikan keterangan pers mengenai penyelenggaraan Our Ocean Conference (OOC) 2018 di Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Jakarta, Rabu (17/10/2018). - ANTARA/Reno Esnir

Bisnis.com, KUTA – Sejumlah isu penting dibawa Indonesia dalam Our Ocean Conference 2018 selama dua hari di Bali yang salah satunya yakni mengenai Marine Polution atau persoalan sampah plastik di laut.

Kasubdit Restorasi Direktorat Pendayagunaan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil Ditjen Pengelolaan Ruang dan Laut KKP Sapta Putra Ginting mengatakan selain persoalan tersebut, Indonesia juga akan mengangkat isu mengenai kawasan konservasi laut atau marine protected area.

Saat ini luasan Marine Protected Area terhitung sangat sempit dibanding konservasi darat. Padahal, biota laut sangat perlu dijaga sehingga marine protected area sangat perlu diperluas.

Agenda ketiga yang akan diangkat Indonesia adalah mengenai pengelolaan perikanan berkelanjutan. Indonesia sendiri telah menjadi ikon untuk Negara lain di dunia dalam memerangi illegal fishing.

“Selama ini Menteri Susi kan selama ini sangat tegas melarang illegal fishing, ini yang perlu kita tunjukkan ke dunia,” katanya, Sabtu (27/10/2018).

Agenda keempat yang juga akan diangkat Indonesia yakni Maritime Security. Selama ini, kawasan laut sering kali dihadapkan dengan perampokan maupun pembajakan. Negara-negara di dunia dinilai harus ikut serta dalam kerja sama mengurangi dampak-dampak kejahatan laut.

Indonesia juga ingin mengangkat agenda mengenai kebencanaan di laut terutama karena adanya perubahan iklim. Kerja sama antar Negara dalam menghadapi eprubahan iklim diniali menjadi langkah tepat dalam menghadapi bencana di laut.

“Kita juga baru saja menghadapi bencana Tsnumai, Negara-enagar lain juga bisa ikut sama-sama berbagai dalam menghadapi itu,” katanya.

Terakhir, Indonesia juga akan mengangkat agenda mengenai Blue Economy sebagai suatu terobosan dalam mengurangi sampah di laut. Plastik tidak hanya menjadi satu-satunya masalah yang dihadapi wilayah pesisir tetapi juga memanfaatkan sampah itu untuk menciptakan lapangan kerja.

“Jadi tidak hanya mengurangi sampah, seperti Indonesia yang mengolah udang tetapi kulitnya juga sekarang bisa diolah, jadi gak ada limbah, zero waste,” katanya.

Adapun sebanyak 1.908 delegasi dan 8 kepala negara yang salah satunya dari 143 negara dipastikan hadir dalam gelaran Our Ocean Conference yang diadakan di Bali pada 29-30 Oktober 2018. Kepala negara yang akan hadir pada acara  Our Ocean Conference (OOC) 2018 merupakan pimpinan negara yang berada di kawasan Asia Selatan. Dengan rincian Presiden Indonesia Joko Widodo, 6 kepala negara luar negeri, dan 1 wakil kepala negara.

Masing-masing perwakilan negara tersebut akan bertemu untuk membahas isu yang berkaitan dengan kelautan dan perikanan. Termasuk cara mencegah polusi dan kerusakan lingkungan laut. Konferensi juga akan membahas pemberdayaan ekpnomi pesisir.

Tag : kemenko kemaritiman
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top