Ini Dua Kunci Keberhasilan Manufaktur Jalankan Industri 4.0

Keberhasilan industri nasional mengadopsi revolusi industri keempat sangat bergantung dengan kecermatan memilih teknologi yang tepat dan keterampilan tenaga kerja yang dilatih.
Anggara Pernando | 24 Oktober 2018 22:08 WIB
Presiden Joko Widodo (dari kiri), memperlihatkan buku dan pin didampingi Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, saat pembukaan Industrial Summit 2018 dan peluncuran Making Indonesia 4.0 di Jakarta, Rabu (4/4/2018). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA -- Keberhasilan industri nasional mengadopsi revolusi industri keempat sangat bergantung dengan kecermatan memilih teknologi yang tepat dan keterampilan tenaga kerja yang dilatih.

Agung Pambudhi, Direktur Apindo Research Institute menuturkan masuknya teknologi generasi keempat ke dalam industri tidak dapat dihindari. Otomatisasi hingga peningkatan produktifitas menjadi nilai yang dikejar dalam penerapan teknologi ini.

"Sekarang tantangannya dan menjadi kunci bagi perusahaan adalah bagaimana memilih dan menerapkan teknologi yang tepat," kata Agung di Jakarta, Rabu (24/10/2018).

Dia menuturkan mengadopsi teknologi keempat bagi industri akan meghabiskan biaya yang besar dan mahal. Menjadi sebuah kerugian besar jika teknologi yang diadopsi ternyata dengan cepat tertinggal kemampuannya untuk meningkatkan produktifitas.

"Ini sebuah pertaruhan yang besar. Industri harus bisa memperkirakan teknologi yang akan meningkatkan produktifitas," katanya.

Persoalan lain, kata Agung, agar lompatan dan adopsi industri ini berjalan dengan baik di Indonesia dibutuhkan tenaga kerja yang terlatih. Untuk itu dibutuhkan penambahan kemampuan hingga pelatihan ulang bagi seluruh tenaga kerja yang ada saat ini agar dapat bertumbuh bersama industri.

"Saat industri bergerak menuju efisiensi, Indonesia akan mengalami ledakan angkatan kerja. Ini harus diantisipasi," katanya.

Agung mencontohkan terdapat pabrik sepatu besar yang beroperasi di Indonesia menargetkan produksinya meningkat hingga 250% dalam 5 tahun ke depan. Saat yang sama perusahaan juga menargetkan nol pertumbuhan tenaga kerja.

"Maka kalau tidak mau tertinggal [akibat revolusi industri 4.0], kita harus investasi yang cukup bagi tenaga kerja maupun mesin," katanya.


Agung menyebutkan investasi ini relatif tidak murah. Untuk itu dia mengharapkan pemerintah merealisasikan insentif pajak bagi industri yang memberikan peningkatan keterampilan bagi tenagkerjanya.

"Model ini sudah dilakukan oleh Thailand. Skill development ini luar biasa bersar biayanya. Untuk itu pemerintah harus mendukung [dalam bentuk insentif pajak]," katanya.

Tag : Revolusi Industri 4.0
Editor : Maftuh Ihsan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top