Data Beras Versi BPS Berbeda, Kementan Tunggu Rilis Resmi

Kementerian Pertanian hanya akan menunggu hasil resmi perihal data produksi beras yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik.
Pandu Gumilar | 22 Oktober 2018 21:07 WIB
Aktivitas pedagang beras lokal di Pasar Sentral Antasari Banjarmasin, Kamis (20/9/2018). - Bisnis/Arief Rahman

Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Pertanian hanya akan menunggu hasil resmi perihal data produksi beras yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Sumardjo Gatot Irianto enggan berkomentar perihal penghitungan anyar yang dilakukan oleh tim yang dibentuk oleh tim lintas Kementerian dan Lembaga yang dipimpin oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Melalui pesan singkatnya, Gatot beserta Kementerian Pertanian hanya akan menunggu data resmi yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). "Mohon maaf. Kami [hanya] menunggu release resmi dari BPS," katanya kepada Bisnis pada Senin (22/10).

Sebelumnya Kementerian Pertanian dalam rapat kerja bersama Komisi IV DPR mengklaim bahwa produksi gabah kering giling (GKG) antara bulan Juli sampai dengan September surplus.

Dari hasil penyempurnaan perhitungan produksi beras itu dilaporkan BPS bahwa sampai dengan September 2018, data luas panen sebesar 9,5 juta Ha. Adapun memperhitungkan potensi sampai Desember 2018, maka luas panen 2018 diperkirakan mencapai 10,9 juta Ha. 

Adapun, berdasarkan perhitungan luas panen tersebut diperkirakan produksi gabah kering giling (GKG) mencapai 49,65 juta ton hingga September 2018. Sementara berdasarkan perhitungan potensi produksi hingga Desember 2018, diperkirakan total produksi GKG mencapai 56,54 juta ton atau setara dengan 32,42 juta ton beras.  

Pada rapat tersebut dipaparkan pula konsumsi beras pada 2017 adalah 111,58 kg per kapita per tahun atau 29,57 juta ton per tahun. Dengan demikian diasumsikan konsumsi beras yang telah disesuaikan untuk 2018 sama dengan 2017. Maka, selama 2018 terjadi surplus beras sebesar 2,85 juta ton. 

Adapun kelebihan GKG disebabkan karena jumlah produksi melebihi kebutuhan konsumsi dalam negeri. Pada Juli, luas panen mencapai 1,5 juta hektar dengan produksi GKG mencapai 8,6 juta ton sedangkan konsumsi hanya 2,4 juta ton.

Begitu pun dengan Agustus, luas panen 1,4 juta hektar dengan potensi produksi GKG 7,3 juta ton sedangkan konsumsi hanya 2,5 juta ton. Pada masa tanam terakhir yakni September, luas panen mencapai 983.377 hektar dengan potensi produksi GKG 7 juta ton dan konsumsi sekitar 2,4 juta ton.

Sebelumnya, Gatot Irianto mengatakan pada tahun ini antara Januari sampai dengan September jauh lebih baik dibandingkan tahun lalu.

"ARAM tahun lalu itu 81 juta ton, tahun menjadi 82 juta ton dan kami menargetkan bisa 83 juta ton lebih produksinya," katanya Rabu (12/9). Gatot mengatakan bahwa hal tersebut dapat tercapai karena luas tanam pada Agustus tahun ini meningkat menjadi 1,5 juta hektar dibandingkan dengan tahun lalu 805.000 hektar.

Bahkan sampai dengan akhir September, Gatot tetap menargetkan luas panen tetap stabil yakni 1,5 juta hektare. 

Produksi katanya naik karena tiga faktor utama yakni perluasan tanam, produktivitas meningkat karena cuaca yang baik dan menurunnya serangan organisme pengganggu tanaman. Bahkan, fenomena el nino ringan justru ikut membantu penambahan luas tanam.

"Memang ada el nino ringan, tapi di lahan rawa yang airnya penuh jadi kering dan bisa ditanam. Kita bilang itu [laham] gogo rawa, habis panen langsung kita tanam lagi. Kelebihan lahan yang sebelumnya tidak bisa tanam sekarang bisa tanam," pungkasnya.

Tag : produksi beras
Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top