Penyerapan B20 di PLN Belum Sesuai Target, Ini Penyebabnya

Penyerapan B20 selama periode 1 September-13 Oktober 2018 direncanakan dapat mencapai 304.772 kiloliter (kl). Namun, realisasinya baru mencapai 142.247 kl atau 46.7% dari target.
Denis Riantiza Meilanova | 19 Oktober 2018 10:06 WIB
Kebijakan bauran biodiesel 20% atau B20. - Bisnis/Radityo Eko

Bisnis.com, JAKARTA--PT PLN (Persero) mencatat realisasi penyerapan biodiesel 20%  atau B20 belum sesuai target yang direncanakan.

Direktur Regional Jawa Bagian Timur, Bali dan Nusa Tenggara PLN Djoko Abumanan mengatakan, penyerapan B20 selama periode 1 September-13 Oktober 2018 direncanakan dapat mencapai 304.772 kiloliter (kl). Namun, realisasinya baru mencapai 142.247 kl atau 46.7% dari target.

Tidak tercapainya target penyerapan tersebut, kata Djoko, salah satunya disebabkan belum adanya pasokan B20.

"Mesin pembangkit kami semua sudah siap. Tinggal sekarang penyedianya. PLN kan user, permasalahan masih di supplai," ujar Djoko, Kamis malam, (18/10/2018).

Pembangkit-pembangkit yang masih mengalami kendala kekurangan pasokan terutama yang berada di wilayah Papua dan sebagian wilayah Maluku.

Di wilayah Papua dan Maluku ditargetkan rencana penyerapan B20 dapat mencapai 49.198 kl. Namun realisasinya baru sekitar 13% dari target, yakni 6.547 kl.

"Paling banyak kendala di Timur sih. Transport kan di sana ya masalahnya," kata Djoko.

Selain Papua dan Makuku, pembangkit di wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara juga masih minim menggunakan B20.

Pembangkit di wilayah ini masih banyak menggunakan High Speed Diesel (HSD) murni karena digunakan untuk pengoperasian PLTG yang menggantikan PLTU yang mengalami gangguan.

Penggunaan HSD di wilayah tersebut mencapai 192.788 kl. Sedangkan penggunaan B20 yang ditargetkan dapat mencapai 33.076 kl, baru terealisasi sebesar 18.391 kl.

Sementara itu, untuk mengatasi kendala tersedianya pasokan B20, pemerintah bakal melakukan penyempurnaan dan penyederhanaan rantai pasok penyaluran bahan baku B20, FAME.

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Rida Mulyana mengatakan, salah satu upaya yang akan dilakukan adalah dengan memusatkan titik penyaluran FAME ke terminal bahan bakar minyak (TBBM) Pertamina di beberapa titik.

"Kami diminta evaluasinya, tanggal 1 Desember 2018 akan dimulai skema yang baru. Misalkan, sekarang jumlah TBBM yang sekarang tersebar, nah kami konsentrasikan di beberapa titik," ujar Rida.

Dia menyebutkan penyaluran FAME kepada badan usaha BBM saat ini mulai membaik meski belum optimal.

Oleh karena itu, untuk meminimalisir potensi masalah dalam penyaluran pemerintah sepakat untuk mengurangi jumlah tujuan penyaluran pasokan FAME.

Sebetulnya sejak awal opsi penyederhanaan titik penyaluran tersebut telah dikemukakan oleh Pertamina. Pertamina telah mengusulkan agar pengiriman FAME hanya dikirim ke 14 fasilitas blending Pertamina, yakni enam kilang dan delapan TBBM.

Nantinya, biodiesel yang sudah dicampur di 14 titik tersebut akan didistribusikan sendiri oleh Pertamina ke SPBU-SPBU miliknya. Sehingga BU BBN tak perlu lagi memasok ke 112 TBBM Pertamina.

Di sisi lain, pemerintah juga mendorong agar angkutan FAME di pelabuhan bisa diprioritaskan, seperti halnya angkutan sembako dan BBM.

Tag : PLN, biofuel, Mandatori B20
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top