Inalum-Antam Tekan Impor Lewat Proyek Hilirisasi

Holding Industri Pertambangan (HIP) PT INALUM (Persero) bersama anggotanya PT ANTAM Tbk berencana melepaskan ketergantungan pasokan dari luar negeri dan mengurangi devisa impor sekitar US$600 juta dari proyek hilirisasi di Kalimantan.
Anitana Widya Puspa | 12 Oktober 2018 15:40 WIB
Pekerja melakukan proses pemurnian dari nikel menjadi feronikel di fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) Pomalaa milik PT Aneka Tambang (ANTAM) Tbk, di Kolaka, Sulawesi Tenggara, Selasa (8/5/2018). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA - Holding Industri Pertambangan (HIP), PT INALUM (Persero) bersama anggotanya PT ANTAM Tbk berencana melepaskan ketergantungan pasokan dari luar negeri dan mengurangi devisa impor sekitar US$600 juta dari proyek hilirisasi di Kalimantan.

Direktur Pelaksana INALUM, Oggy A. Kosasih menuturkan langkah itu dilakukan dengan menggandeng kerja sama dengan produsen alumina terbesar kedua di dunia Aluminum Corporation of China Ltd (CHALCO) dari Tiongkok untuk melakukan hilirisasi produk tambang di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat.

Oggy memaparkan melalui PT Borneo Alumina Indonesia (BAI), ketiga perusahaan tersebut akan bekerja sama membangun pabrik pemurnian untuk memproses bauksit menjadi alumina, yang merupakan bahan baku utama untuk membuat aluminium ingot. INALUM, kata dia, merupakan produsen aluminium ingot satu-satunya di Indonesia, yang nantinya akan menyerap sebagian besar alumina dari BAI.

Selama ini, paparnya, kapasitas produksi INALUM sebanyak 250 ribu metrik ton aluminium ingot per tahun, maka memerlukan 500 ribu metrik ton alumina. Sayangnya, saat ini kebutuhan tersebut masih dipasok dari luar negeri.

“Adanya proyek kerja sama ini, INALUM akan melepaskan ketergantungan pasokan dari luar negeri dan mengurangi devisa impor sekitar US$600 juta. Selain itu, proyek ini akan memberikan nilai tambah bauksit yang selama ini diekspor dalam bentuk ore yang berkelanjutan,"katanya melalui keterangan resmi yang diterima Bisnis Jumat (12/10/2018).

Adapun kerja sama ketiga perusahaan tersebut telah tertuang dalam penandatanganan kesepakatan pada 11 Oktober 2018 di acara Indonesia Investing Forum 2018, IMF-World Bank Annual Meetings 2018 di Nusa Dua, Bali. Penandatangan kerjasama proyek dengan nama teknis Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) tersebut dilakukan oleh Oggy A. Kosasih dengan Presiden Direktur CHALCO Hongkong, Li Wangxing. 

Konstruksi proyek SGAR dilakukan dalam 2 tahap dengan total kapasitas produksi 2 juta metrik ton alumina. Selanjutnya, kata dia, peletakan batu pertama untuk pabrik pemurnian tahap 1 dengan kapasitas 1 juta metrik ton rencananya akan dilaksanakan pada kuartal IV/2018 dan diharapkan dapat mulai produksi pada 2021.

Investasi untuk membangun pabrik tahap 1 tersebut diperkirakan sekitar US$ 850 juta. Upaya untuk melakukan hilirisasi industri pertambangan dan menciptakan nilai tambah adalah salah satu dari tiga mandat pembentukan holding HIP selain menguasai sumber daya pertambangan Indonesia dan menjadi perusahaan kelas dunia. 

HIP juga menjadi salah satu tulang punggung negara dalam mendulang devisa dari hasil ekspor dan mengurangi ketergantungan bahan baku dari impor. HIP memperkirakan penjualan hasil ekspor hingga 2018 sebesar US$2,51 miliar atau sekitar Rp 37 triliun. Adapun hingga Agustus 2018, telah terealisasi US$1,57 miliar atai 62,5% dari proyeksi.

Selain reputasi CHALCO sebagai produser alumina nomor satu di Tiongkok dan nomor dua di dunia, perusahaan tersebut mempunyai pengalaman teruji dalam menjalankan industri aluminium terintegrasi dari bauksit hingga ke produk hilir aluminium. CHALCO juga memiliki teknologi yang efisien dengan biaya operasional yang rendah dan berpengalaman mengoperasikan pabrik SGAR.

Tag : inalum
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top