Aplikasi Algriz untuk Hubungkan Petani ke Konsumen Diluncurkan

PT Convergence Global, perusahaan IT yang bergerak di bidang telekomunikasi dan piranti lunak mulai merambah industri agribisnis sebagai penyedia aplikasi bernama Algriz. Algriz diplot sebagai titik temu antara produsen, pembeli, stakeholders, regulator dan pemain lain yang berkecimpung di dalamnya.
Pandu Gumilar | 09 Oktober 2018 21:01 WIB
Petani merawat tanaman kopi di lereng Gunung Sindoro, Temanggung, Jawa Tengah. - Antara/Anis Efizudin

Bisnis.com, JAKARTA — PT Convergence Global, perusahaan IT yang bergerak di bidang telekomunikasi dan piranti lunak mulai merambah industri agribisnis sebagai penyedia aplikasi bernama Algriz. Algriz diplot sebagai titik temu antara produsen, pembeli, stakeholders, regulator dan pemain lain yang berkecimpung di dalamnya.

Rinaldi Napitupulu, Founder Algriz mengatakan aplikasi tersebut sudah selesai dirancang. Algriz dirancang untuk menjembatani antara petani dengan pembeli secara langsung terutama generasi millennial. "Algriz sendiri singkatan dari Millennial Agribisnis," katanya pada Selasa (9/10). 

Rinaldi menjelaskan Algriz memanfaatkan teknologi berbasis blockchain yang didapuk menjadi solusi bisnis agro 4.0 sehingga memungkinkan petani, peternak, dan pekebun skala kecil ataupun tradisional dapat bertemu langsung pembeli di sebuah arena. Dengan begitu pendapatan petani bisa meningkat karena menentukan harga langsung ke konsumen tanpa campur tangan tengkulak.

Namun, Rinaldi menjelaskan kemampuan Algriz tidak cuma sebagai fasilitator jual beli layaknya e-commerce pada umumnya. Algriz, lanjutnya, memiliki beberapa konsep yang siap diterapkan secara konkrit dengan menggabungkan konsep crowd sourcing, crowd funding dan crowd marketing.

Pertama, entry point hilir yakni Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) sebagai pendamping petani membuat paket-paket investasi project agro, baik kecil maupun besar. Pembuatan paket ini mengedepankan pola ‘driven by demand/market’. Dengan begitu, proyek agro berskala kecil yang akan menjadi pilar pertumbuhan Agro 4.0. 

Kedua, penerapan crowd funding yakni masyarakat kelas menengah dan atas di kota dapat menanamkan investasinya di proyek-proyek agro dalam skala besar maupun kecil di sentra-sentra pertanian.

Ketiga, penerapan crowd marketing. Jadi seluruh saluran marketing akan diaktifkan sebagai distribusi pemasaran baik below the line yakni pasar ritel seperti mall, minimarket, dan lelang agro. Lalu fungsi penjualan via e-commerce baik dalam negeri maupun luar negeri. "Jadi pembeli bisa membeli langsung dari petani via e-commerce dan petani bisa menyalurkan langsung ke ritel juga," katanya.

Keempat, penerapan Crowd Logistic yakni mengangkut hasil agro dari pelosok desa ke kota, stasiun, bandara, atau pelabuhan dengan menggunakan pola konsolidasi. Jadi petani bisa mengirimkan komoditas dalam skala kecil lalu digabungkan dengan pengiriman dari petani lain untuk memangkas biaya logistik. Rinaldi mengatakan pihaknya akan mengajak perusahaan logistik untuk ikut bergabung dalam aplikasi ini.

Kelima, penerapan crowd sourcing jadi akan ada banyak pihak terlibat dalam proses produksi, marketing, hingga sampai ke tangan konsumen akhir.  Sebagai contoh dari sisi fasilitasi biasanya pembinaan bertumpu pada PPL, namun juga melibatkan akademisi, pelaku usaha, dll yang saling memberi masukan.

Tag : aplikasi, rantai pasok
Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top