Pengembangan Bandara di Bali Perlu Kajian Mendalam

Angkasa Pura I menilai perlu kajian mendalam dengan para pemangku kepentingan soal pengembangan bandara di Bali guna mengakomodasi pertumbuhan jumlah wisatawan asing yang datang menggunakan transportasi udara.
Rio Sandy Pradana | 24 September 2018 17:48 WIB
Lokasi perluasan apron sisi barat Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Denpasar, Bali, Selasa (18/9). - Bisnis/Feri Kristianto

Bisnis.com, JAKARTA - PT Angkasa Pura I (Persero) menilai perlu kajian mendalam dengan para pemangku kepentingan soal pengembangan bandara di Bali guna mengakomodasi pertumbuhan jumlah wisatawan asing yang datang menggunakan transportasi udara.

Corporate Secretary AP I, Handy Heryudhitiawan mengatakan kapasitas pergerakan penumpang di Bandara I Gusti Ngurah Rai akan dikembangkan hingga mencapai 37 juta orang per tahun. Adapun, kapasitas pegerakan tahunan saat ini sebanyak 9,4 juta orang untuk terminal domestik dan 16 juta orang untuk terminal internasional.

"Kami saat ini memang fokus di DPS [kode Bandara Ngurah Rai]. Namun, tetap terbuka bilamana ada perspektif lain," kata Handy, Senin (24/9/2018).

Dia menambahkan 37 juta penumpang per tahun tersebut setara dengan 85.000 hingga 100.000 penumpang per hari. Dibutuhkan sarana penunjang seperti akses jalan, integrasi moda transportasi, daya dukung air bersih, listrik, pengolahan sampah yang mumpuni.

Menurutnya terdapat dua opsi pengembangan bandara dalam suatu wilayah. Pertama, memperbesar kapasitas satu bandara secara maksimal dan dengan dilengkapi oleh sarana penunjang pada area sekitarnya.

Contoh wilayah yang mengadopsi cara tersebut adalah Atlanta di Amerika Serikat. Bandara Hartsfield–Jackson Atlanta sanggup melayani hingga 100 juta penumpang dalam satu wilayah.

Peran pemerintah baik pusat maupun daerah sangat menentukan untuk menciptakan bandara dengan kapasitas besar dan fasilitas yang lengkap tersebut.

Opsi kedua, lanjutnya, adalah membangun beberapa bandara untuk memecah konsentrasi penumpang dalam satu wilayah. Contohnya adalah London yang memiliki Bandara Gatwick, Bandara Heathrow, dan Bandara Stansted.

Handy berpendapat keputusan pemerintah untuk menggunakan pengembangan opsi pertama maupun kedua perlu dibicarakan bersama. Tantangan utama adalah terkait dengan area pengembangannya.

"AP I harus duduk bersama dengan stakeholder di Bali untuk melihat proyeksi 30 tahun atau bahkan 100 tahun ke depan. Agar selaras dengan pembangunan daerah," ujarnya.

Saat ini, AP I sedang melakukan pengembangan Bandara Ngurah Rai denga dana investasi hingga Rp2,1 triliun untuk seluruh proyeknya. Salah satunya adalah terkait dengan perluasan apron hingga mencapai 109 hektare.

Perluasan tersebur terdiri atas bagian Barat dan Timur. Adapun, lahan yang akan dikembangkan menggunakan reklamasi seluas 47,9 hektare.

Peningkatan juga dilakukan untuk loket lapor diri (check-in) internasional yang akan diperluas dan diperbanyak dari 96 unit seluas 2.470 meter persegi menjadi 126 unit dengan luas 4.420 meter persegi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bali, bandara, angkasa pura

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top