Target Pertumbuhan Manufaktur 5% Dinilai Masih Sulit

Target pertumbuhan manufaktur Indonesia 5% dinilai masih sulit dicapai dalam waktu dekat.
Hadijah Alaydrus | 24 September 2018 19:25 WIB
Pekerja beraktivitas di pabrik PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Indonesia, di Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (25/4)./Bloomberg - Dimas Ardian

Bisnis.com, JAKARTA - Target pertumbuhan manufaktur Indonesia 5% dinilai masih sulit dicapai dalam waktu dekat. 

Kepala Penelitian Makroekonomi dan Finansial Lembaga Pengkajian Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI), Febrio N. Kacaribu mengungkapkan target tersebut cukup berat karena sudah terbukti dalam 5 tahun-6 tahun terakhir hanya tumbuh di kisaran 4%.

"Untuk loncat ke 5% itu berat, tetapi kami lihat mungkin bisa naik dengan kebijakan pemerintah yang lebih targeted," kata Febrio selepas menghadiri Indonesia Economic Outlook 2019 di Gedung BKF, Senin (24/9/2018).

Febrio menilai salah satu yang masih menjadi kendala adalah implementasi 16 paket kebijakan belum berjalan maksimal, termasuk di dalamnya pengelolaan dan pengembangan kawasan ekonomi khusus dan kawasan industri. Pihaknya melihat beberapa kawasan ekonomi khusus dan kawasan industri masih banyak kosong. 

Ke depannya, pengembangan dan pengelolaan kawasan ekonomi harus melibatkan investor sejak awal dengan memperhatikan kebutuhan dan masukan dari calon pengguna tersebut. 

Di sisi lain, industri manufaktur Indonesia masih didominasi oleh sektor makanan dan minuman atau turunan CPO. Sementara itu, manufaktur di negara lain seperti Korea dan Thailand telah memproduksi produk yang memiliki nilai tambah cukup besar, seperti mesin, gadget, peralatan semikonduktor. 

"Sehingga kita jangan berpuas diri karena share-nya cukup tinggi, tetapi produktivitasnya dan nilai tambahnya seperti apa," ungkap Febrio. 

Terkait dengan peta jalan industri 4.0 yang dicanangkan pemerintah tahun ini, dia melihat perencanaannya cukup realistis dengan menempatkan makanan dan minuman sebagai industri manufaktur andalan. 

Kemudian sektor kedua yang jadi andalan adalah otomotif. Menurutnya, fokus industri di dalam negeri diarahkan lebih ke spareparts karena nilai tambahnya lebih besar dibandingkan produk kendaraan jadi.

Selama ini, Indonesia di sektor otomotif terlalu fokus kepada produksi final goods atau barang jadi. Inilah mengapa impor meningkat tajam. Lebih lanjut, Febrio tidak dapat melihat kapan industri 4.0 bisa menunjukkan progres karena pemerintah masih berada di tahap awal. 

"Karena ini bukan hal yang promising untuk jangka pendek. Kita melihat mungkin lima tahun ke depan, apa signifikan perubahannya atau tidak," tegas Febrio. 

Tag : manufaktur
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top