Topang Ekspor Sawit, Terminal Curah Cair Pulau Baai Ditarget Beroperasi 2019

Terminal curah cair di Pulau Baai, Bengkulu, ditargetkan beroperasi tahun depan untuk memfasilitasi pengapalan minyak sawit dari Bengkulu dan sekitarnya langsung ke sejumlah pasar mancanegara.
Sri Mas Sari | 19 September 2018 18:54 WIB
Pabrik CPO

Bisnis.com, JAKARTA - PT Pelindo II (Persero) menargetkan terminal curah cair di Pulau Baai, Bengkulu, beroperasi tahun depan untuk memfasilitasi pengapalan minyak sawit dari Bengkulu dan sekitarnya langsung ke sejumlah pasar mancanegara. 

Direktur Komersial dan Pengembangan Usaha Pelindo II, Saptono R. Irianto mengatakan pembangunan dermaga saat ini sedang berlangsung dan diharapkan selesai awal 2019.

Fasilitas berikutnya, seperti pipa dan pompa, tangki timbun, dan lapangan untuk tangki timbun, dibangun menyusul. Konsep yang dimiliki Pelindo adalah terminal curah cair yang terintegrasi dengan pabrik pengolahan kelapa sawit (PKS). 

"Lahan sudah kami siapkan dan dan kami sudah menandatangani MoU dengan para pemilik kelapa sawit. Asosiasinya ada. Harapannya tahun depan sudah bisa dioperasikan. Dermaga jadi, storage-nya jadi," kata Saptono kepada Bisnis, Rabu (19/9/2018).

Jika fasilitas itu beroperasi, maka pemuatan minyak sawit dari perkebunan di Bengkulu dan sekitarnya akan terkonsolidasi di Pulau Baai dari saat ini terpencar di Pelabuhan Teluk Bayur (Sumatra Barat), Panjang (Lampung), Palembang, dan Jambi. Pulau Baai dirancang menjadi pelabuhan yang melayani transshipment minyak sawit. 

Saptono menuturkan keunggulan Pulau Baii adalah lokasinya yang berada di pesisir barat Sumatra sehingga strategis untuk ekspor langsung (direct shipment) ke India, Pakistan, dan Eropa yang merupakan negara-negara konsumen minyak sawit terbesar. 

Sejauh ini, sudah ada tiga PKS yang menandatangani nota kesepahaman dengan Pelindo II, yakni PT Sinar Jaya Inti Mulya, PT Wilmar, dan PT Sari Dumai Sejati. 

Untuk membangun dermaga, Pelindo II merogoh kocek Rp200 miliar. Sementara untuk pipa dan mesin, perseroan menyiapkan dana Rp100 miliar. Adapun untuk tangki, investasi yang dibutuhkan sekitar Rp200 miliar-Rp300 miliar untuk kapasitas penyimpanan 1,5 juta-2 juta ton per tahun. Investasi tangki masih dikaji apakah akan dilakukan oleh Pelindo II atau oleh produsen atau trader minyak sawit. 

Saptono menjelaskan distribusi minyak sawit dari PKS ke pelabuhan bisa dilakukan melalui dua moda transportasi.  Pertama, menggunakan tongkang dari PKS ke pelabuhan untuk dikumpulkan di tangki, lalu dikapalkan antarpulau atau ke luar negeri saat volumenya memadai. Kedua, menggunakan kendaraan melalui jalur darat menuju pelabuhan. 

Pelindo II bahkan menggagas penambahan satu lagi moda transportasi, yakni kereta api.  "Tapi, kami harus berkerja sama dengan pihak swasta untuk membangun rel kereta api. Ini masih dalam perencanaan," kata Saptono. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pelindo ii

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top