Permintaan Manufaktur Bakal Kerek Impor? Begini Penjelasannya

Permintaan produk manufaktur dalam negeri bakal mempengaruhi impor bahan baku/penolong dan barang modal ke depan.
Annisa Sulistyo Rini | 19 September 2018 23:06 WIB
Aktivitas karyawan di pabrik karoseri truk di kawasan industri Bukit Indah City, Purwakarta, Jawa Barat, belum lama ini. Selain kebutuhan lapangan kerja yang semakin besar, produktivitas industri manufaktur dinilai perlu lebih digenjot guna menghindari ancaman jebakan negara berpenghasilan menengah atau middle income trap. - Bisnis/NH

Bisnis.com, JAKARTA—Permintaan produk manufaktur dalam negeri bakal mempengaruhi impor bahan baku/penolong dan barang modal ke depan.

Pada Agustus 2018, impor bahan baku/penolong dan barang modal tercatat turun masing-masing sebesar -7,60% dan -8,98% secara bulanan. Sementara itu, impor kedua jenis barang tersebut selama Januari-Agustus 2018 masih terdapat kenaikan sebesar 23,24% dan 29,24% secara tahunan.

Mohammad Faisal, Direktur Penelitian Center of Reform and Economic (CORE), mengatakan tren impor bahan baku/penolong dan barang modal setiap bulan fluktuatif. Namun, pada bulan-bulan sebelumnya masih terjadi pertumbuhan.

Dia berpendapat faktor yang mempengaruhi penurunan impor pada Agustus tersebut adalah langkah pemerintah yang telah memberikan sinyal untuk mengurangi proyek infrastruktur dan kegiatan sektor manufaktur. Dari sisi industri pengolahan, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dan peningkatan harga minyak dunia mempengaruhi biaya produksi yang pada akhirnya membuat produsen menekan biaya output.

"Ke depan, tergantung sejauh mana demand dalam negeri karena ekspor kan saat ini tidak kuat. Kalau permintaan dalam negeri tidak mampu mengkompensasi hal tersebut, industri manufaktur bakal menekan biaya output, termasuk pembelian bahan baku dan barang modal," katanya Rabu (19/9/2018).

Sebaliknya, apabila kecepatan tren pelemahan nilai tukar dan kenaikan harga minyak masih bisa diimbangi oleh demand domestik, impor bahan baku/penolong dan barang modal ke depan diproyeksikan dapat meningkat.

Suhariyanto, Kepala BPS, mengatakan secara keseluruhan impor non migas pada Agustus 2018 senilai US$13,79 miliar atau turun 11,78% m-t-m. Beberapa contoh barang modal yang mengalami penurunan antara lain emas, gandum, dan kapas, sedangkan barang modal antara lain mesin dan pesawat mekanik.

"Untuk Januari-Agustus masih tumbuh, semoga kenaikan ini mampu menggerakkan industri dalam negeri dan berkontribusi ke pertumbuhan ekonomi lewat investasi dan sebagainya," ujarnya.

Sebelumnya, Nikkei Indonesia Manufacturing Purchasing Managers’ Index (PMI) yang dirilis awal bulan menunjukkan indeks pada bulan kedelapan 2018 berada di angka 51,9 atau naik dibandingkan Juli yang sebesar 50,5. Pada bulan sebelumnya, PMI hanya naik tipis dari 50,3 ke 50,5.

Data indeks di atas 50 menunjukkan peningkatan, sedangkan di bawah 50 mengindikasikan penurunan.

Aashna Dodhia, Ekonom IHS Markit, mengatakan pertumbuhan yang cukup signifikan ini didorong oleh permintaan dalam negeri yang berada dalam laju paling tinggi sejak Juli 2014, berdasarkan survei. Walaupun demikian, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menyebabkan pembengkakan biaya.

Dodhia juga menggaris bawahi beberapa indikator yang tetap melemah, seperti permintaan ekspor dan peningkatan harga bahan baku yang terbesar dalam 3 tahun belakangan.

Hasil dari survei juga menunjukkan pelaku usaha manufaktur mempertahankan outlook positif pada tingkat produksi selama 12 bulan ke depan dengan optimisme mereka pada pertumbuhan tiga bulan yang tinggi, meningkat kembali dari penurunan yang terjadi sebelumnya, termasuk tingkat terendah dalam 68 bulan terakhir pada Juni 2018.

Tag : manufaktur
Editor : Maftuh Ihsan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top