Izin Impor Gula Mentah untuk Rafinasi Ditambah 577.000 Ton

Pemerintah akhirnya kembali menerbitkan kuota izin impor baru gula mentah (GM) untuk gula kristal rafinasi (GKR) pada paruh kedua tahun ini sebesar 577.000 ton.
Yustinus Andri DP | 19 September 2018 13:10 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah akhirnya kembali menerbitkan kuota izin impor baru gula mentah (GM) untuk gula kristal rafinasi (GKR) pada paruh kedua tahun ini sebesar 577.000 ton.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Oke Nurwan mengatakan, izin impor tersebut diberikan melalui surat persetujuan impor (SPI) ke lima perusahaan. Perusahaan tersebut adalah PT Dharmapala Usaha Sukses, PT Permata Dunia Sukses Utama, PT Sugar Labinta, PT Makassar Tene dan PT Andalan Furnindo.

“Kita keluarkan dulu untuk kuartal III/2018 sebesar 577.000 ton, karena sistemnya berubah jadi kuartalan atas rekomendasi Kemenperin.  Kuota ini bisa saja bertahan sampai Desember, sembari kita lihat perkembangan realisasi dan kebutuhan GKR,” katanya kepada Bisnis.com, Selasa (18/9/2018).

Apabila kuota izin impor ini dipertahankan oleh Kemendag hingga akhir tahun, maka jumlah tersebut akan lebih rendah dari kuota awal yang rencananya diberikann pada semester II/2018 sebesar 1,8 juta ton. Adapun, pemeritah pada awalnya membuka kuota impor GM untuk GKR pada tahun ini sebesar 3,6 juta ton yang akan dibagi dalam dua semester.

Oke menuturkan, langkah tersebut diambil lantaran realisasi serapan GM untuk GKR pada semester I/2018 hanya sebesar 1,5 juta ton. Di sisi lain, penurunan kuota izin impor pada paruh kedua tahun ini disebabkan oleh keinginan pemerintah mengontrol impor bahan baku penolong, untuk menekan devisa keluar.

Sebelumnya, Direktur Industri Makanan, Hasil Laut, dan Perikanan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Enny Ratnaningtyas mengatakan, rekomendasi kuota impor GM untuk GKR kuartal III/2018 telah diajukan ke Kementerian Perdagangan pada Juli lalu sebanyak 900.000 ton.  

Adapun, rekomendasi tersebut disesuaikan dengan permintaan dari dalam negeri. Namun dia menyebutkan, rekomendasi tersebut dapat diturunkan sewaktu-waktu apabila terdapat perubahan kebutuhan dari sektor industri.

Terpisah, Wakil Ketua Bidang Kebijakan Publik Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Rachmat Hidayat mengatakan, saat ini pasokan GKR untuk industri mamin masih terjaga. Dia menyebutkan, hingga awal September ini kebutuhan GKR untuk sektor mamin mencapai 600.000 ton.

“Pasokan dari Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI) masih lancar. Belum ada hambatan. Kemungkinan AGRI masih memiliki cadangan GM untuk diolah GKR guna memenuhi kebutuhan kami,” ujarnya.

Kendati demikian, Rachmat  berharap agar penurunan izin kuota impor GM untuk GKR oleh Kemendag tersebut tidak mengganggu aktivitas produksi industri mamin. Pasalnya, apabila pasokan GKR ke industrinya terhambat, maka akan menimbulkan gangguan produksi sektor mamin secara keseluruhan. 

 

Tag : impor gula
Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top