Tiga Tahap Kembangkan Palangka Raya Jadi Ibu Kota

Upaya menjadikan Palangka Raya sebagai ibu kota negara perlu didukung dengan rancangan infrastruktur, segmentasi kota yang sesuai, dan promosi yang optimal.
Gloria Fransisca Katharina Lawi | 18 September 2018 14:52 WIB
Ilustrasi - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA – Upaya menjadikan Palangka Raya sebagai ibu kota negara perlu didukung dengan rancangan infrastruktur, segmentasi kota yang sesuai, dan promosi yang optimal.

Pengamat Tata Kota Universitas Trisakti, Yayat Supriatna mengatakan untuk menjadikan Palangka Raya sebagai ibu kota, perlu ada lompatan untuk menjamin kesejahteraan dan kesetaraan hidup di dalam kota. Adapun gagasan awal adalah pemerataan pembangunan tidak hanya fokus ke Pulau Jawa. Maka dibuatlah cara menurunkan ketimpangan yakni butuh pusat pertumbuhan baru.

“Nah pusat pertumbuhan baru. Apa mau kawasan Industri? Maka harus ada ada magnet besar, yakni pusat pemerintahan dan bisa jadi daya tarik, kalau pusat pemerintahan ada di luar Jawa maka perspektif berpikirnya tidak akan lagi Jawa oriented,” kata Yayat di Pullman Hotel, Selasa (18/9/2018).

Yayat menegaskan, masa depan Indonesia berada di luar Jawa, dimana pengembangan jaringan bisa maksimal dan lahan masih banyak. Dia menerangkan bahwa beban di Pulau Jawa berat karena menjadi pulau kota. Dengan Palangka Raya sebagai calon ibu kota, harus punya pengembangan visi dan jangan terlalu tergantung pada pola yang ada. Misalnya dengan pengembangan lain berbasis perkebunan, pertanian, dan ekonomi kreatif.

“Kalau pindah kita harus ada skenario baru. Cara tercepat dia harus didukung infrastruktur dan bagaimana membangun jaringan jalan tol. Kedua, jaringan kereta api, maka keretanya cepat berkembang. Sebagai ibu kota jangan dia tidak terkoneksi dan harus ada pengembangan pusat kota dengan hinterland, tetapi bagaimana mengintegrasikan itu terkait dengan kota sekitarnya,” paparnya.

Hal yang menurut Yayat tidak boleh sampai terabaikan adalah membangun kota yang terstruktur sesuai kultur. Dia mengatakan perlu ada upaya membentuk citra Palangka Raya sebagai bakal ibu kota dengan menawarkan aksesibilitas dan ciri khas kota tersebut.

“Maka kesempatan yang ada sekarang adalah melakukan branding. Lalu kerjasama dengan Pemprov dan kementerian teknis, misalnya Kementerian Perhubungan untuk memastikan rencana jaringan kereta api. Sehingga hasil kajian tidak masuk ke laci saja, tetapi jadi cara promosi,” ujar Yayat.

Yayat menambahkan, beberapa kota berbasis kultur yang bisa menjadi acuan pengembangan ibu kota Palangka Raya misalnya Banyuwangi. Yayat menjelaskan, Banyuwangi menjadi berkembang dengan pesat setelah menjadi kota festival.

Diapun mengusulkan, salah satu metode branding perkotaan terbaik adalah memberikan kesempatan Palangka Raya sebagai arena perhelatan acara besar tingkat nasional dan internasional.

“Kadang pengembangan kota itu jadi alasan untuk pembukaan lahan baru saja. Dulu di Jonggol sempat menjadi calon ibu kota, ternyata karena pengembang sedang mencari lahan untuk menjadi kawasan kota baru,” ungkap Yayat.

Tag : palangkaraya
Editor : M. Rochmad Purboyo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top