Pengusaha Plywood Cemaskan Potensi Bea Masuk Tambahan ke AS

Pelaku usaha mengkhawatirkan AS akan mengenakan bea masuk tambahan untuk produk kayu lapis seiring dengan mulai gencarnya ekspor produk plywood tebal ke negeri adidaya itu.
Juli Etha Ramaida Manalu | 09 Agustus 2018 20:51 WIB
/Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA—Pelaku usaha mengkhawatirkan AS akan mengenakan bea masuk tambahan untuk produk kayu lapis seiring dengan mulai gencarnya ekspor produk plywood tebal ke negeri adidaya itu.

Pengurus Asosiasi Panel Kayu Indonesia (Apkindo) Bidang Pemasaran dan Hubungan Internasional Gunawan Salim mengatakan selama ini produk kayu lapis Indonesia yang dengan lancar memasuki pasar AS adalah yang berjenis tipis (thin plywood).

Namun, pascadinaikkannya bea masuk anti dumping oleh AS untuk produk kayu dari China, sejumlah pemain lain mulai mengisi celah yang terbuka, salah satunya produsen kayu lapis tebal Indonesia. Sejumlah industri dari Jawa mulai melakukan ekspor kayu lapis tebal yang berbahan kayu sengon ke AS.

Dia menambahkan, berbeda dengan kayu lapis tipis yang memiliki pasar khusus dan tidak diproduksi di AS, produk kayu lapis tebal ini tidak dimanfaatkan oleh industri recreational vehicle (RV) atau karavan dan biasanya digunakan untuk keperluan umum lainnya.

“Kehadiran plywood tebal yang tidak memiliki pasar khusus ini menambah kekhawatiran kemungkinan masuknya [semua] produk plywood asal Indonesia ke dalam radar pertimbangan AS untuk menaikkan bea masuknya, di tengah tidak terprediksinya keputusan-keputusan yang mungkin dikeluarkan oleh Trump,” kata Gunawan kepada Bisnis, Rabu (8/8) malam.

Dari catatan Apkindo, volume ekspor plywood Indonesia ke AS sepanjang Januari-Juni 2018 untuk semua ketebalan tercatat mencapai 325.342 meter kubik atau sekitar 25% dari total impor AS dari semua negara yang mencapai 1,268 juta meter kubik.

Namun, khusus untuk plywood tipis, menurut Gunawan, Indonesia mendominasi dengan angka di atas 50% dari total impor plywood tipis AS.

Di sisi lain, Gunawan mengaku masih cukup optimistis bahwa produk thin plywood akan luput dari pengenaan bea masuk tambahan dari AS. Pasalnya, sudah ada penetapan harmonized system (hs) code khusus untuk produk plywood tipis Indonesia oleh Komisi Perdagangan Internasional Amerika Serikat (USITC).

“Kita senang karena ini akhirnya dibikin klasifikasi HS code yang baru khusus untuk yang tipis ini. Jadi, seumpama ada apa-apa HS code baru yang tipis ini kan bisa dipisahkan. Dari pemerintah mereka bisa memisahkan mana plywood  yang mereka perlu yang tidak menyaingi industri dalam negeri mereka.”

Saat ini pelaku industri plywood pun berusaha menjalin komunikasi dengan partner bisnis mereka di Negeri Paman Sam untuk bisa turut memberi masukan ke asosiasi industri RV yang memang membutuhkan plywood tipis asal Indonesia.

Sementara itu, kayu lapis juga menjadi salah satu komoditas yang diajukan untuk mendapatkan  generalized system of preference (GSP) dari AS setelah tidak mendapatkan fasilitas ini selama beberapa tahun terakhir.

Berdasarkan data Departemen Perdagangan AS (US Department of Commerce), Indonesia mengekspor plywood 56.212 m3 selama Januari-Februari, disusul China 36.444 m3 dan Rusia 29.802 m3.

Dibandingkan dengan periode sama tahun lalu, volume pengapalan Indonesia melesat 29%, China jatuh 82%, dan Rusia turun 1%.

Jika melihat data perkembangan itu, China awal tahun lalu masih menempati ranking pertama, diikuti Indonesia dan Rusia di urutan kedua dan ketiga. Dominasi China di AS menancap karena material plywood China berasal dari hutan tanaman sehingga harganya kompetitif.

Adapun bagi Indonesia, AS adalah pasar plywood terbesar kedua setelah Jepang dengan volume ekspor 48.127,7 ton selama Januari-Februari berdasarkan data BPS.

Tag : kayu, plywood
Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top