Biodiesel 20%: Spesifikasi Mesin Truk tak Cocok, tak Ada Water Separator

Pengusaha angkutan barang menilai rencana pemerintah untuk memperluas penggunaan biodiesel 20% atau B20 tidak sesuai dengan kondisi truk yang ada saat ini.
Dewi Aminatuz Zuhriyah | 30 Juli 2018 19:19 WIB
/Bisnis/Alby Albahi

Bisnis.com, JAKARTA — Pengusaha angkutan barang menilai rencana pemerintah untuk memperluas penggunaan biodiesel 20% atau B20 tidak sesuai dengan kondisi truk yang ada saat ini.

Kyatmaja Lookman,  CEO Lookman Djaja, menilai jika aturan itu diterapkan maka akan banyak truk-truk yang rusak lantaran spesifikasi teknis yang tidak sesuai dengan bahan bakarnya.

“Truk-truk yang ada ini spek teknisnya B10, kalau menggunakan B20 ya bisa rusak kendaraan. Truk itu kan ada dari jaman dulu sampai sekarang, kalau menggunakan biodiesel 20% ya pasti siapa yang bayar penyesuaian mesinnya. Ibarat orang kolestrol yang tiba-tiba stroke, banyak teman [pengusaha angkutan barang] yang gak paham dampaknya ke kendaraan, padahal truk-truk lama itu tidak ada water separator.” kata Kyatmaja kepada Bisnis  Senin (30/7/2018).

Menurutnya,  jika kebijakan tersebut diberlakukan maka pengusaha angkutan barang akan menanggung kerugian atau beban cost yang sangat banyak.

Apalagi, hampir keseluruhan mesin angkutan barang yang ada saat ini tidak siap dengan teknologi FAME (fatty acid methyl ester)yang ada di bahan bakar biodiesel. 

Berdasarkan penghitungannya, biaya kerusakan mesin untuk satu unit truk bisa mencapai anggaran kurang lebih Rp30 juta.  Jika dikalikan dengan total jumlah truk yang ada di Indonesia yakni sebanyak 6 juta unit truk maka biaya kerusakan akan mencapai Rp180 triliun.

Di samping itu, dirinya juga menyayangkan sikap pemerintah yang tidak melibatkan para pelaku usaha angkutan barang saat merumuskan kebijakan tersebut, melainkan hanya melibatkan Gaikindo dan pengusaha sawit.

Kyamaja menilai rencana perluasan penggunaan B20 akan memperburuk industri logistik ditengah banyaknya pembatasan jam operasional dan kebijakan angkutan barang.

“Kalau mau bicara energi alternatif, kenapa gak gas sudah lebih murah, tidak kuras devisa, emisinya juga tercapai Euro 4. Kalau biosolar/biodiesel saya Euro 2 aja sanksi [ragu].”

Dia pun menyarankan agar pemerintah menyediakan fasilitas peremajaan truk baru yang dipaket dengan mesin untuk biodiesel. Sementara perlu juga penyediaan solar transisi dengan harga sama.

“Jadi kita harus buat mesin [truk] menjadi FAME ready, perubahan di gasket karet-karet seal dan hose, water separator juga harus disiapkan, disisi lain, ada solar B10, B20, dan B30 dijual bersamaan. Sampai saat ini industri belum buat fame ready engine, mesin pasaran saat ini hanya untuk B10.”

Untuk diketahui, pemerintah Indonesia akan mulai menerapkan perluasan penggunaan campuran biodiesel 20% (B20) kepada semua sektor termasuk non public service obligation (PSO) per Agustus tahun ini.

Tag : Biodiesel
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top