Harga Kopi Arabika di Solok Naik, Ini Penyebabnya

Harga Kopi Arabika di Solok Naik, Ini Penyebabnya
Newswire | 25 Juli 2018 20:36 WIB
Ilustrasi-Petani memanen biji kopi - Antara/Wahdi Septiawan

Bisnis.com, JAKARTA - Harga kopi arabika di Kabupaten Solok, Sumatera Barat, naik sekitar 20 persen sehingga yang semula Rp76.000 kini menjadi Rp95.000, dan yang berkualitas tinggi sebelumnya Rp110.000 sekarang Rp140.000 per kilogram.

"Kopi arabika semakin diminati dan laris di pasaran sehingga harganya terus membaik," kata Pengurus Koperasi Solok Radjo, Firman dihubungi dari Padang, Rabu (25/7/2018).

Dengan membaiknya harga kopi tersebut, petani di sini mulai semangat menanam kopi, katanya.

Koperasi Solok Radjo membeli kopi dari petani dan mengolah hasil kebun tersebut menjadi kopi asalan, atau kopi yang sedang melewati panen dan pemanggangan biasa.

Pada 2017, kata dia Koperasi Solok Radjo membeli kopi dari petani sekitar 10 ton, dan pada tahun 2018 menargetkan embeli kopi dari petani sebanyak 25 sampai 30 ton.

Terkait perkembangan komoditas kopi saat ini, ia menilai pasarnya sudah ada sesuai dengan kualitas barang.

Kopi arabika yang bernama latin coffea arabica itu tumbuh di ketinggian 700 sampai dengan 2.000 meter di atas permukaan laut (mdpl), sedangkan untuk kopi robusta atau coffea canephora tumbuh di 400 hingga 700 mdpl.

Daerah penghasil kopi arabica yakni Kabupaten Solok, Agam, Solok Selatan, Kabupaten Tanah Datar, Limapuluh Kota, dan Pasaman Barat.

Sebelumnya Direktur Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Hargyono mengatakan komoditas kopi bisa menjadi produk unggulan perhutanan sosial di Provinsi Sumatera Barat.

Perhutanan Sosial merupakan sistem pengelolaan hutan secara lestari yang dilakukan dalam kawasan hutan negara atau hutan adat, yang dilakukan oleh masyarakat setempat dan adat sebagai pelaku utama untuk meningkatkan kesejahteraan.

Berdasarkan catatan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, terdapat sekitar 2,4 juta hektare kawasan hutan di Sumbar. Dari angka tersebut, lanjutnya baru sekitar 200 ribu hektare hutan yang sudah diterbitkan izin atas perhutanan sosial. Artinya masih ada jutaan hektare lahan hutan yang bisa ditanami kopi.

Sumber : Antara

Tag : kopi
Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top