Revitalisasi Pabrik, Holding PTPN Targetkan Produksi Gula 2019 capai 900.000 ton

Revitalisasi Pabrik, Holding PTPN Targetkan Produksi Gula 2019 capai 900.000 ton
Juli Etha Ramaida Manalu | 24 Juli 2018 01:08 WIB
Gula - Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA- Holding PT Perkebunan Nusantara menargetkan produksi gulanya bisa mencapai 900.000 ton pada tahun depan seiring dengan aksi revitalisasi pabrik gula (PG) yang dilakukan oleh perusahaan.

Direktur Utama PTPN III Dolly P Pulungan menyebutkan tahun ini saja, holding perusahaan menargetkan produksi bisa mencapai 700.000-800.000 ton.

“Harusnya udah 900.000 an tahun depan karena pabriknya efisien, kapasitasnya besar,” katanya, Senin (23/7/2018).

Perusahaan menargetkan akan merevitalisasi 7 PG seperti PG Asembagus di Situbondo yang ditargetkan bisa memproduksi 3.000 ton cane per day (tcd) pada Juli tahun ini dan 6.000 tcd per September PG Jatiroto yang saat ini mampu memproduksi 8.000 tcd menjadi 10.000 tcd tahun depan PG Mojo Rendeng dengan kapasitas masing-masing mencapai 2.000 tcd tahun ini ditargetkan bisa meningkat menjadi 4.000 tcd per PG pada tahun depan.

Selanjutnya, ada revitalisasi PG Gempolkrep yang saat ini sedang ditender, dan PG Sragi serta Tasikmadu yang saat ini sedang dalam persiapan tender untuk masing-masing juga bisa mencapai produksi sebanyak 4.000 tcd. Tak berhenti di 7 PG ini revitalisasi akan terus dilanjutkan ke PG-PG lainnya.

“Naik terus, pokonya PTP nanti roadmap-nya pabriknya nggak banyak tapi besar-besar dan automatic semua,” tambah Dolly.

Di samping revitalisasi pabrik, pihaknya juga melakukan penutupan sejumlah pabrik yang dianggap tidak efisien. Pada umumnya, pabrik yang dilakukan penutupan berkapasitas 1.500 tcd ke bawah.

Kendati demikian, pihaknya menjamin tidak akan ada pengurangan akibat penutupan pabrik ini, karena meskipun tidak lagi berporduksi seperti sedia kala, pabrik-pabrik ini akan dikonversi untuk kebutuhan lain seperti kebutuhan workshop, pabrik produksi gula cair, gula karamel, dan lain-lain.

“Yang ditutup itu karena dia skala usahanya kecil. Pabrik gula kecil ini kalau hanya domodernisasi seolah-olah memangun pabrik gula baru padahal [pabrik] di sebelahnya juga sedang dibesarkan. Toh, tebunya pada area yang sama. Yang kira-kira [biaya operasinoalnya] sudah terlalu mahal tetapi tidak signifikan akan menaikkan [produksi], dijadikan [dikonversi menjadi] yang lain, Toh permintaan produk lain juga masih tinggi.” jelasnya.

Tag : gula
Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top