Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kemendag Tuding Spekulan Sebabkan Harga Telur Mahal

Kementerian Perdagangan menemukan indikasi adanya spekulasi di tingkat pedagang yang mengganggu rantai pasok dan menyebabkan harga telur ayam di pasaran semakin mahal.
M. Richard
M. Richard - Bisnis.com 17 Juli 2018  |  14:15 WIB
Pedagang telur di pasar tradisional. - JIBI/Dedi Gunawan
Pedagang telur di pasar tradisional. - JIBI/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Perdagangan menemukan indikasi adanya spekulasi di tingkat pedagang yang mengganggu rantai pasok dan menyebabkan harga telur ayam di pasaran semakin mahal.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menjelaskan adanya potensi pihak perantara alias distributor menikmati keuntungan penjualan telur ayam yang tidak wajar sebelum menyampaikannya ke tingkat pedagang.

“Biasanya praktik tersebut terjadi di distributor kedua dan ketiga. Yang lebih menikmati [keuntungan] di mata rantai itu,” ungkapnya seusai konferensi pers di Gedung Kemendag, Senin (16/7) malam.

Untuk mengatasi hal tersebut, Enggar meminta pihak para distributor dan pedagang segera melakukan normalisasi harga. Jika dalam sepekan tidak ada normalisasi harga, Kemendag bersama PD Pasar Jaya akan melakukan operasi pasar.

"Kalau dalam sepekan [harga telur ayam] tidak turun, kami akan potong [rantai distribusi melalui OP], karena sebenarnya kami membatasi para integrator itu untuk masuk ke pasar tradisional," tegasnya.

Ketua Umum Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional Herry Dermawan mengaku menemukan harga ayam hidup di Ciamis (tempat peternak paling jauh) mencapai Rp24.500/kg.

Jika dikirimkan ke Jakarta, harga normalnya hanya Rp27.000/kg, tetapi pemotong ayam di Jakarta membeli dengan harga Rp35.000/kg. "Hal tersebut yang menjadi kecurigaan, dan untuk itu Satgas pangan harus turun untuk membina," katanya.

Namun, dia berpendapat kenaikan harga telur juga dipicu adanya permasalahan dari sisi pasokan, akibat terhentinya produksi selama libur Lebaran dan turunya produktivitas peternak akibat gangguan dari virus, iklim dan masalah pakan ternak.

Dari sisi, peternak telur ayam dari Asosiasi Pinsar Petelur Nasional (PPN) Hidayat mengatakan, kenaikan harga telur terjadi murni karena konsumsi masyarakat yang meningkat seiring dengan berbagai momentum besa seperti Piala Dunia 2018.

Dia menjelaskan harga telur juga dipengaruhi masalah pasokan akibat serangan penyakit 90-60-40, yang menyebabkan produksi yang biasanya 90% turun hingga 50%—60%.

Untuk penyelesaian penyakit tersebut, Hidayat mengharapkan tindakan dari pemerintah, karena penyebaran penyakit ini masih belum dapat diketahui.

Menurut data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional, rerata harga daging ayam ras saat ini mencapai Rp39.100/kg, jauh di atas harga acuan senilai Rp32.000/kg. Adapun, harga telur ayam menembus Rp27.200/kg, jauh di atas harga acuan Rp22.000/kg.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

telur
Editor : Wike Dita Herlinda
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top