SCI: Patimban Tingkatkan Efisiensi Logistik Industri Nasional

Lembaga riset dan pendidikan Supply Chain Indonesia (SCI) memberi catatan terkait proyek Pelabuhan Patimban, Kabupaten Subang, Jawa Barat yang diproyeksikan dibangun pada bulan ini.
Ilham Budhiman | 10 Juli 2018 15:59 WIB
Pelabuhan Patimban di Subang, Jawa Barat. - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - Lembaga riset dan pendidikan Supply Chain Indonesia (SCI) memberi catatan terkait proyek Pelabuhan Patimban, Kabupaten Subang, Jawa Barat yang diproyeksikan dibangun pada bulan ini.

Chairman SCI, Setijadi mengatakan Pelabuhan Patimban berpotensi menjadi pelabuhan alternatif dari Pelabuhan Tanjung Priok. Hal ini terutama karena masalah aksesibilitas akibat kemacetan di sekitar Pelabuhan Tanjung Priok. Bahkan, menurutnya, kemacetan juga terjadi di ruas-ruas jalan tol menuju Pelabuhan tersebut, termasuk ruas tol Jakarta-Cikampek.

"Lokasi Pelabuhan Patimban sangat strategis bagi industri di Jawa Barat. Sebagian besar volume ekspor dan impor yang melalui Pelabuhan Tanjung Priok berasal atau untuk wilayah itu," kata Setijadi kepada Bisnis, Selasa (10/7/2018).

Namun, Pelabuhan Patimban diproyeksi hanya akan fokus pada kegiatan ekspor otomotif. Keberadaan pelabuhan yang tahap pertama ditargetkan beroperasi pada 2019 ini diyakini akan memangkas biaya logistik lantaran mendekatkan pusat produksi kendaraan bermotor di Karawang dengan pelabuhan.

"Oleh karena itu Supply Chain Indonesia berharap Pelabuhan itu tidak hanya menangani produk otomotif, tetapi juga produk-produk lainnya sesuai dengan kebutuhan industri di wilayah itu," kata setijadi.

Menurut Setijadi, analisis data SCI menunjukkan bahwa sekitar 79% volume ekspor dan 84% volume impor dari Pelabuhan Tanjung Priok pada tahun 2016 dari Jawa Barat.

Oleh karena itu, keberadaan Pelabuhan Patimban berpotensi mengalihkan volume ekspor terutama dari Karawang (29% volume Tanjung Priok), Purwakarta (8%), dan Bandung (6%). "Serta tidak menutup kemungkinan dari Bekasi 32%," ungkapnya.

Di samping itu, potensi volume impor Jawa Barat melalui Tanjung Priok yang berpotensi beralih ke Palabuhan Patimban adalah dari Karawang (36%), Purwakarta (9%), dan Bandung (6%), serta Bekasi (23%).

"Dengan mempertimbangkan volume ekspor-impor yang melalui Pelabuhan Tanjung Priok sekitar 65% volume nasional, maka efisiensi yang bisa diperoleh dengan keberadaan Pelabuhan Patimban berpotensi berdampak positif terhadap peningkatan efisiensi logistik nasional," ujarnya.

Secara khusus, kata Setijadi, Pelabuhan Patimban berpotensi mendukung rencana pengembangan kawasan Bekasi-Karawang-Purwakarta (Bekapur) sebagai Kawasan Strategis Nasional (KSN).

Dengan tetap melakukan pengembangan ekonomi dan industri di kawasan-kawasan lain, termasuk di luar Jawa dan Kawasan Timur Indonesia, pengembangan kawasan Bekapur dinilai sangat penting. "Karena kontribusi ekonominya yang tinggi, yaitu sekitar 15% terhadap industri nasional," ujarnya.

Perlu diketahui, pembangunan pelabuhan akan dilaksanakan dalam tiga tahap. Tahap pertama, pelabuhan direncanakan dapat melayani bongkar-muat peti kemas 3,5 juta twenty-foot equivalent units (TEU's) dan 600.000 unit kendaraan bermotor (CBU). Kapasitas pelayanan secara berangsur akan meningkat menjadi 5,5 juta TEU's pada tahap II dan 7,5 juta TEU's pada tahap III.

Menurut Dirjen Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan Agus H. Purnomo pelabuhan akan fokus pada kegiatan ekspor otomotif jika beroperasi tahun depan.

Keberadaan pelabuhan diyakini akan mengurangi biaya logistik karena mendekatkan pusat produksi kendaraan bermotor di Karawang dengan pelabuhan. Barang otomotif itu nantinya diangkut menggunakan kapal kargo.

Patimban juga dipercaya bakal memperkuat ketahanan ekonomi, mengurangi tingkat kepadatan lalu lintas di Jakarta karena arus lalu-lintas kendaraan terbagi, serta menjamin keselamatan pelayaran, termasuk area eksplorasi migas. "Pelabuhan Patimban akan berdampak pada biaya ekspor produk otomotif Indonesia yang lebih efisien,” kata Agus (Bisnis Indonesia, Senin 9/7)

Fasilitas itu juga akan didukung oleh area sarana penunjang (back up area) untuk efisiensi logistik dari dan ke pelabuhan seluas 356 hektare. Di sisi lain, Pelabuhan Patimban merupakan salah satu proyek strategis nasional (PSN) dengan nilai investasi seluruhnya mencapai Rp43,5 triliun. Adapun biaya pembangunan berasal dari pinjaman Official Development Assistance (ODA loan) pemerintah Jepang.

Tag : pelabuhan patimban
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top