Hadapi Perang Dagang Indonesia Siapkan Insentif Tambahan

Tentunya dunia usaha paling sensitif terhadap ketidakpastian. Kita harus menyiapkan insentif tambahan untuk menanggapi dan menanggulangi sentimen investor.
Amanda Kusumawardhani | 09 Juli 2018 16:39 WIB
Kepala BKPM Thomas Trikasih Lembong saat berkunjung ke kantor Bisnis Indonesia, di Jakarta, Senin (7/8). - JIBI/Endang Muchtar

Bisnis.com, BOGOR—Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Thomas Lembong mengakui bahwa perang dagang yang terjadi antara Amerika Serikat dan China lebih berdampak kepada kepercayaan investor.

Meski menyatakan perang dagang tidak secara langsung berdampak terhadap perekonomian Indonesia, Thomas menyebutkan perang dagang tersebut bisa menimbulkan ketidakpastian di dunia usaha.

“Tentunya dunia usaha paling sensitif terhadap ketidakpastian. Kita harus menyiapkan insentif tambahan untuk menanggapi dan menanggulangi sentimen investor,” katanya di Istana Bogor, Senin (9/7/2018).

Sebagai informasi, Amerika Serikat berusaha keras untuk menekan angka defisit neraca perdagangannya terhadap sejumlah mitra perdagangannya. Data Departemen Perdagangan Amerika Serikat (AS) menunjukkan angka defisit mencapai US$46,2 miliar per kuartal II/2018.

Jika dirinci, sejumlah negara menjadi penyebab defisit neraca perdagangan AS antara lain China, Jepang, India, Indonesia, dan Kanada.

Untuk itu, saat ini AS tengah mengevaluasi kelayakan tiga negara yakni Indonesia, India, dan Kazakhstan untuk kembali mendapatkan Generalized System of Preference (GSP) atau pemotongan bea impor terhadap produk ekspor tiga negara tersebut.

Berdasarkan kajian kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, hingga 7 Juli 2018, Indonesia masih memperoleh manfaat GSP AS dalam kategori A, yang memberikan pemotongan tarif bea masuk di AS untuk 3.500 produk, termasuk sebagian produk agrikultur, produk tekstil, garmen dan perkayuan.

Mengacu pada laporan GSP AS tahun 2016, Indonesia hanya memperoleh manfaat GSP sebanyak US$1,8 miliar dari total ekspor Indonesia ke AS pada 2016 sebesar US$20 miliar.

Tag : bkpm, perang dagang AS vs China
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top