Penutupan Kilang Minyak Bayangi Keputusan OPEC

Penutupan fasilitas penyulingan minyak di Kanada membalikkan kondisi pasar minyak dan menjatuhkan saham produsen yang bergantung pada jumlah kilang minyak.
Mutiara Nabila | 28 Juni 2018 23:25 WIB
Ilustrasi kilang lepas pantai. - Bloomberg/Tim Rue

Bisnis.com, JAKARTA – Penutupan fasilitas penyulingan minyak di Kanada membalikkan kondisi pasar minyak dan menjatuhkan saham produsen yang bergantung pada jumlah kilang minyak.

Setelah organisasi negara pengekspor minyak (OPEC) dan produsen sekutunya sepakat untuk memompa minyak dalam jumlah yang lebih banyak ke pasar global, tak lama muncul kabar adanya penutupan kilang minyak Syncrude, yang mengolah minyak mentah berat menjadi ringan untuk pasar AS.

Seiring dengan penurunan aliran minyak dari wilayah Utara, para trader harus membayar premium rekor untuk harga minyak di pusat distribusi minyak di Cushing, Oklahoma.

Kesenjangan antara minyak Brent dan West Texas Intermediate (WTI) dalam pasar global semakin menyusut setelah sempat melebar pada beberapa bulan terakhir.

Perusahaan Goldman Sachs Group Inc. menilai penutupan operasi kilang minyak Kanada tersebut sebagai peristiwa paling dramatis di pasar minyak, sebagai bagian dari perlawanan pada keputusan OPEC dalam pertemuannya di Wina pada pekan lalu.

Saham yang dimiliki Suncor Energy Inc., yang mengawasi operasi kilang tersebut, anjlok ke level terendah selama lebih dari dua tahun.

“Syncrude sangat penting. Kilang tersebut merupakan salah satu yang sudah berdiri dan memiliki sistem paling lama. Jadi, dengan produksi yang ditutup, akan memberikan dampak yang cukup besar,” ujar Tim Pickering, pendiri dan kepala pelaksana investasi Auspice Capital Advisors, dilansir dari Bloomberg, Kamis (28/6).

Fasilitas yang memproduksi minyak sebanyak 350.000 barel per hari itu, yang merupakan salah satu yang terbesar dan terbaik di dunia, akan kehabisan komisinya pada akhir Juli.

Perkiraan penyusutan pasokan minyak menyusul penyusutan pasokan di Cushing selama lima pekan berturut.

Harga minyak AS yang menjadi patokan untuk pengiriman teraktif di pusat, yang biasanya sama dengan yang ada di perdagangan berjangka di New York Merchantile Exchange, melonjak secara tak terduga pada posisi US$5,75 per barel pada Senin (25/6).

Gangguan tersebut membantu menjauhkan AS dari seluruh dunia dan memperkuat putar balik dinamika di pasar global.

Sementara itu desakan Arab Saudi yang meyakinkan anggota OPEC untuk menambah pasokan hingga 1 juta barel per hari telah memberikan tekanan pada perdagangan Minyak Brent di London, dan penyusurtan di Kanada mendorong harga minyak AS.

Peristiwa tersebut membantu mengurangi kesenjangan harga antara kedua patokan perdagangan minyak itu, pulih dari pelebaran kesenjangan harga yang sempat terjadi saat pasar terlalu berfokus pada rekor produksi dari ladang minyak serpih.

Hal itu memberikan implikasi global karena perbedaan harga itu membantu pembeli minyak dari seluruh dunia untuk menentukan apakah pengiriman minyak dari AS lebih baik daripada mengirim dari wilayah lain.


Pada perdagangan Kamis (28/6), Harga minyak Brent berada pada posisi US$78,01 per barel. Sementara itu, harga minyak WTI berada pada posisi US$72,65 per barel. Keduanya berselisih US$5,36 per barel, dibandingkan dengan selisih hampir US$12 pada dua pekan lalu.

Di Kanada, penyusutan pasokan minyaknya merugikan saham Suncor, yang memegang 59% dana pada operasi tersebut.

“Dengan penutupan fasilitas pada Juli mendatang, bisa memangkas produksi Suncor hingga 770.000 barel per hari, mendekati prediksi sejumlah analis sejumlah 812.000 barel per hari,” ungkap sejumlah analis Tudor Pickering Holt.

Suncor merosot 4,6% menjadi CA$50,88 di Toronto, penurunan intraday terbesar sejak Februari 2016. Imperial Oil Ltd., yang pemilik Syncrude sejumlah 25%, merosot 1,5%.

Penyusutan pada pekan lalu hanya menjadi peristiwa baru di tambang minyak tertua kedua di Kanada, yang memulai operasinya pada pertengahan 1970-an dan menghadapi masalah kepercayaan dalam beberapa tahun terakhir. Kilang tersebut melakukan pemeliharaan sesuai jadwal dan memakan waktu lebih panjang dari ayng diperkirakan.

Tag : kilang minyak, opec
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top