HARI UMKM INTERNASIONAL: Wirausaha Didorong Miliki Bisnis Berkelanjutan

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) didorong memiliki semangat wirausaha yang berdampak sosial untuk bisnis yang berkelanjutan.
Agne Yasa | 27 Juni 2018 20:11 WIB
Pekerja melakukan proses pengolahan kedelai di salah satu pabrik di Jakarta, Selasa (13/3/2018). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA – Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) didorong memiliki semangat wirausaha yang berdampak sosial untuk bisnis yang berkelanjutan.

Presiden International Council for Small Business (ICSB) Indonesia Hermawan Kartajaya mengatakan konsep tersebut sangat relevan dengan situasi dunia yang makin padat teknologi khususnya media sosial.

“Konsep kewirausahaan yang dipegang saat ini oleh ICSB, terutama ACSB [Asia Council for Small Business] yaitu humane entrepreneurship. Nanti UKM ini coba dilihat, kebanyakan anak muda, perempuan, dan netizen,” katanya Rabu (27/6/2018).

ICSB merupakan organisasi yang memperjuangkan UMKM di PBB yang telah hadir di 85 negara termasuk Indonesia. Keberadaannya ditopang oleh empat pilar yaitu akademisi, peneliti, praktisi bisnis, dan pembuat kebijakan.

Adapun konsep kewirausahaan humane entrepreneurship  yang dinisiasi oleh penggiat dan pakar UMKM Korea Selatan Ki-Chan Kim tersebut tidak hanya mendorong para wirausawahawan untuk mengutaman profit saja. Namun, memiliki dampak positif kepada lingkungan sekitar agar mampu berkelanjutan di masa depan.

Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Katolik Parahyangan Catharina Badra Nawangpalupi mengatakan wirausaha sebaiknya tidak berbicara hanya profit tetapi juga manusianya. Menurutnya, ketika berbicara kekuatan manusia ini, Indonesia memiliki keunggulan karena social capital di Indonesia sangat besar.

“Dari penelitian, wirausaha Indonesia memiliki antusiasme yang tinggi,” ujarnya.

Data Global Entrepreneurship Monitor (GEM) pada 2017 menunjukkan spirit kewirausahaan Indonesia berada di peringkat ke-3 dari 54 negara.

Selain itu, Data G20 dari EY di 2013 menunjukkan bahwa 44% wirausaha melihat kegagalan bisnis sebagai kesempatan belajar. Adapun ini merupakan persentase tertinggi di antara negara G20.

Data GEM 2017 menunjukkan bahwa 75% wirausaha pemula memilih melakukan usaha karena melihat adanya peluang yang lebih baik (empowerment).

Data GEM Indonesia mencatat kelemahan UMKM Indonesia ada dari sisi experimentation, dimana hanya 7,8% dari wirausaha pemula memiliki keinginan untuk memperoleh pasar internasional. Namun, hal ini meningkat dari hanya 1% di tahun 2016

"Lewat e-commerce mendapatkan pasar yang lebih besar dari IT," katanya.

Kemudian, terkait dampak sosial, data GEM 2015 menunjukkan hanya ada 2,2% wirausaha sosial di Indonesia, namun wirausaha sosial cenderung lebih memiliki role model dibanding wirausaha lain.

"Dari sisi human, kewirausahaan sosial mulai naik daun tapi dari sisi persentase secara nasional masih kecil," katanya.

Menurutnya, UMKM Indonesia masih menghadapi tantangan untuk memperoleh akses pasar yang lebih besar termasuk pasar internasional dengan penguatan SDM dan kolaborasi, serta inovasi hal tersebut dinilai akan bisa dihadapi.

Ke depan, katanya, setiap pemangku kepentingan perlu bersinergi untuk mendorong UMKM menghadapi tantangannya.

Sementara itu, Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM Meliadi Sembiring mengatakan tantangan dan tuntutan bagi UMKM dalam era pasar global dan digitalisasi semakin besar. Untuk itu, katanya, UMKM yang dinamis, penuh inovasi dan kreatif serta memiliki jejaring dan daya saing akan mampu berkelanjutan usahanya.

“Para pelaku UMKM harus mampu dan jeli menyikapi dinamikan perubahan pasar dan teknologi dalam pengembangan usahanya,” katanya.

Secara kuantitas, saat ini tercatat 62,92 juta unit usaha atau 99,99% dari total unit usaha di Indonesia adalah UMKM dengan kontribusi secara umum terhadap PDB  yang mencapai 60% dari total PDB nasional serta potensi penyerapan tenaga kerja mencapai 116,3 juta orang atau 97,02% dari total angkatan kerja yang bekerja.  

Meliadi menambahkan rasio kewirausahaan juga penting dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Saat ini, tingkat rasio kewirausahaan Indonesia menunjukkan peningkatan dari sebesar 1,67% menjadi 3,1%.

“Trennya cukup signifikan,” ujarnya.

Ketua Bidang Organisasi ICSB Indonesia Samsul Hadi mengatakan pihaknya mendorong agar pemerintah juga segera untuk mewujudkan RUU Kewirausahaan agar tercipta kepastian aturan yang jelas bagi pengembangan kewirausahaan Indonesia.

“Semoga pemerintah bisa segera mewujudkannya,” katanya.

Indonesia menjadi salah satu inisiator Hari UMKM Internasional di markas PBB pada 16 Juni 2016. Adapun Hari UMKM Internasional yang diperingati setiap 27 Juni ini memasuki peringatan tahun keduanya pada 2018. 

Tag : umkm
Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top