Manajemen 5 Dermaga di Danau Toba akan Dilimpahkan ke ASDP

Kementerian Perhubungan akan menata ulang manajemen lima dermaga di wilayah Danau Toba untuk dilimpahkan ke PT ASDP Indonesia Ferry (ASDP) pasca Kecelakaan kapal KM Sinar Bangun di lintasan Dermaga Simanindo 18 Juni lalu.
Dewi Aminatuz Zuhriyah | 20 Juni 2018 17:51 WIB
Personil Basarnas merapatkan kapal usai melakukan pencarian penumpang korban tenggelamnya Kapal KM Sinar Bangun di perairan Danau Toba di Dermaga Tigaras, Simalungun, Sumatra Utara, Selasa (19/6/2018) dini hari. - ANTARA/Lazuardy Fahmi

Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Perhubungan akan menata ulang manajemen lima dermaga di wilayah Danau Toba untuk dilimpahkan ke PT ASDP Indonesia Ferry (ASDP) pasca Kecelakaan kapal KM Sinar Bangun di lintasan Dermaga Simanindo 18 Juni lalu.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan pemerintah akan melakukan renovasi terhadap kualitas dermaga dan infrastruktur terhadap 5 dermaga yakni di Danau Toba, Ambarita, Hajibata, Simanindo, Tigaras, dan Muara.   

"Saat ini sedang dijajaki pengelolaan lima dermaga untuk selanjutnya diserahkan kepada pihak ASDP," ujarnya hari ini Rabu (20/6/2018) di Kantor Kemenhub.

Budi menuturkan untuk  upaya penanganan pasca kecelakaan KM Sinar Bangun, pihaknya akan melakukan upaya peningkatan aspek pelayaran di Danau Toba.

Dia menuturkan telah diadakan pertemuan seluruh operator kapal motor dan sepakat meningkatkan kualitas keamanan di danau Toba.

"Diperbantukan dari Kemenhub sebanyak 5.000 life jacket di lintasan penyebarangan," tambahkan.

Budi menambahkan pihaknya juga akan melakukan audit keselamatan terhadap semua kapal yang beroperasi di Danau Toba dan seluruh wilayah perairan Indonesia.

Budi menilai insiden KM Sinar Bangun terjadi lantaran overload  penumpang di kapal bertonse 35 GT yang hanya memiliki kapasitas 43 penumpang.

Kenyataanya  jumlah penumpangnya saat kecelakaan lebih dari 100% kapasitas yang semestinya.

Budi menuturkan kejadian itu terjadi pada 18 Juni pukul 17.15 sekitar 500 meter dari dermaga Tigaras.

Dari kejadian itu, sampai hari ini baru ada 22 korban yang berhasil dievakuasi, 4 orang diantaranya ditemukan meninggal dan 18 sisanya selamat.

"Cuaca dalam keadaan hujan deras angin kencang, petir dan tinggi gelombang sampai dua meter. Korban yang sedang dalam pencarian saat ini sedang dilakukan pendataan," katanya.

Menhub menambakan pihaknya tengah melakukan pembagian tugas yang dibagi dalam lima tim.  

Tim  pertama bertugas melakukan pendaftaran orang hilang yang terindikasi sebagai penumpang yang bertanggung jawab Polres Simalungun dan polres Samosir.

Tim kedua, adalah tim pencarian pertolongan penanggung jawab Basarnas, yang tergabung dari Kepolisian, Komando Resor Militer dan Lantamal, unsur masyarakat, BNBP, BMKG dan Marinir. 

Tim ketiga, tim fakta penyebab kecelakaan penyelidikan yang dilakukan oleh KNKT dan Polda Sumut. 

Tim keempat merupakan tim penanganan korban baik yang meninggal dunia maupun yang selamat, sedangkan tim kelima adalah tim pemulangan korban baik yang meninggal dunia dan selamat, dan disiapkan mobil jenazah dan mobil pemulangan.

"Penangan akan dilakukan selama tujuh hari ke depan, dan apabila diperlukan ditambah tiga hari. Saat ini sudah dibuat dapur umum yang dikelola Pemda Simalungun."

Upaya terakhir, lanjutnya, Kemenhub juga akan melakukan  investigasi terhadap pihak-pihak apabila ada suatu pelanggaran terhadap peraturan yang ada.

Tag : kapal tenggelam
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top