Tahun Ini Bisnis Ritel Bangkit dari Keterpurukan, Ini Alasannya

Setelah melalui masa suram pada 2017, kinerja bisnis ritel tahun ini diproyeksi mulai membaik didorong sinyal positif memasuki kuartal II/2018 serta peningkatan konsumsi memasuki momentum Idulfitri.
Agne Yasa | 24 Mei 2018 10:43 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — Setelah melalui masa suram pada 2017, kinerja bisnis ritel tahun ini diproyeksi mulai membaik didorong sinyal positif memasuki kuartal II/2018 serta peningkatan konsumsi memasuki momentum Idulfitri.

Executive Director Nielsen Company Indonesia Yongky Susilo menjabarkan kinerja ritel untuk produk fast moving consumer good (FMCG) pada kuartal I/2018 berada di angka -1%. “Jadi [pertumbuhan ritel] Januari—Maret 2018 itu minus satu, tapi April mulai positif,” ujarnya, Rabu (23/5).

Pertumbuhan positif tersebut, sebutnya, merupakan berkah dari kenaikan pendapatan di toko tradisional maupun toko modern jenis supermarket. Dia berharap sinyal positif tersebut dapat berlanjut hingga Mei dan Juni karena adanya momentum Ramadan dan Idulfitri.

“[Kinerja ritel pada kuartal II/2018] Pasti bagus karena peak season. Saya yakin sekali pada kuartal kedua performa ritel akan luar biasa,” tuturnya.

Yongky mengungkapkan periode delapan pekan selama masa puasa dan Lebaran tahun lalu, pertumbuhan bisnis ritel hanya 5%. Padahal, pada periode yang sama 2016, pertumbuhannya menembus angka 16% dan pada 2015 mencapai 21%.   

“Karena tahun lalu base-nya kecil, tahun ini saya yakin [pertumbuhan bisnis ritel] akan dobel digit. Paling sedikit sama seperti [2016], yaitu antara 15%-20%,” sebutnya.

Faktor lain yang memicu optimisme pertumbuhan bisnis ritel tahun ini adalah adanya anggaran tunjangan hari raya (THR) dan gaji ke-13 yang mencapai Rp35,76 triliun bagi ASN, TNI, dan Polri pada Juni dan Juli. Hal itu diyakini akan merangsang konsumsi rumah tangga.

Akan tetapi, dia menggarisbawahi kemungkinan turunnya kinerja ritel selepas Lebaran atau sekitar Juli. Meskipun hal tersebut adalah siklus yang wajar, dia memperkirakan kinerja ritel akan kembali tumbuh pada Agustus dan September berkat pergelaran Asian Games 2018.

“Performa kuartal III masih akan sustain. Nah, yang perlu dipikirkan adalah kuartal IV. Diperlukan stimulus seperti paket kebijakan agar [momentum optimisme bisnis ritel] bisa bertahan selama dua tahun ke depan.”

Jika pemerintah dapat merangsang pertumbuhan konsumsi rumah tangga hingga 6% sehingga bisnis ritel kembali bergairah, dia meyakini pertumbuhan ekonomi Indonesia mampu mencapai level 52,%-5,4%.

"Saya sangat yakin [tahun ini bisnis ritel kembali bergairah] karena momentumnya sudah ada, anginnya sudah ada, tinggal naikkan gelombang, main kreatif, jangan sampai lepas. Tahun ini, [pertumbuhan ritel bisa] di atas 5%," katanya.

Sementara itu, Ketua Bidang Komunikasi dan Media Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Fernando Repi juga optimistis kinerja ritel pada 2018 dapat berada di kisaran 5%-6% meskipun pada tahun lalu hanya berada di kisaran 2%-3%. 

"Tiga tahun ini ritel menurun. Tahun ini bisa 5%-6%. Kinerja di kuartal 1/2018 paling buruk, tetapi di kuartal II ada Ramadan dan Lebaran. Diharapkan trennya bisa naik hingga akhir tahun, dan [secara keseluruhan] tahun ini bisa lebih baik," ujarnya. 

SEJUMLAH TANTANGAN

Namun, para pengusaha tak menampik sejumlah tantangan masih harus dihadapi pebisnis ritel tahun ini. Misalnya saja, pola belanja yang sudah berubah dan persaingan dengan pelaku perdagangan elektronik.

Direktur Utama Sogo Indonesia Department Store Handaka Santosa berpendapat inovasi untuk memberikan pengalaman pelanggan harus dilakukan. Melalui berbagai inovasi dan efisiensi, bisnis ritel dapat mencatat pertumbuhan positif. 

"Kuartal pertama tahun ini, Sogo [kinerjanya tumbuh] hampir 15% dibandingkan dengan tahun lalu. Kami berharap kuartal dua lebih lagi karena ada hari Idulfitri. Bagi peritel, penjualan terbesar itu adalah saat Ramadan dan Idulfitri," katanya. 

Wakil Direktur Indef Eko Listiyanto menilai kalangan pengusaha optimistis terhadap kondisi ekonomi 2018 sehingga mendorong permintaan ke sektor ritel meskipun kondisi nilai tukar rupiah menurun. 

"Pengusaha optimsitis dan pemerintah perlu mendorong optimisme setelah Lebaran. Harus ada stimulus yang mendorong geliat di swasta, termasuk ritel. Adanya Asian Games dan pertemuan tahunan World Bank-IMF nanti diharapkan mendorong konsumsi," jelasnya. 

Dia menilai dengan dikucurkannya THR, onsumsi rumah tangga diharapkan terdorong ke angka 5% dimana tahun sebelumnya ada di angka 4,95%. 

Sementara itu, Direktur Bina Usaha dan Pelaku Distribusi Ditjen Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan I Gusti Ketut Astawa mengatakan pemerintah terus mendorong sektor ritel melalu beragam stimulus. 

Misalnya saja, mendorong kemitraan bagi para peritel dan kemudahan berusaha seperti onlinesingle subsmission (OSS). 

"Saya lihat teman-teman pengusaha optimistis. Ritel akan bisa bertahan, minimal punya kompetensi SDM, inovasi. pemerintah memfasilitasi, membuat regulasi yang lebih smooth, melakukan pengawasan dan pembinaan, pelaku usaha harus terus berinovasi," katanya. 

 

Kinerja Ritel saat Momentum Ramadan dan Idulfitri  (FMCG)

--------------------------------------------

Tahun             Pertumbuhan (%) 

--------------------------------------------

2017                5

2016                16

2015                21

--------------------------------------------

Sumber: Nielsen Company Indonesia, 2018

 

Kinerja Ritel Sepanjang Tahun

-------------------------------------------

Tahun             Pertumbuhan (%) 

-------------------------------------------

2017                2-3

2016                9

2015                11

-------------------------------------------

Sumber Aprindo, diolah

Tag : ritel
Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top