Minamas Masih Merasakan Dampak El Nino

Perusahaan perkebunan kelapa sawit, Minamas Plantation, anak perusahaan Sime Darby Group masih merasakan dampak fenomena El Nino yang berimbas pada penurunan produksi tandan buah segar (TBS) sebesar 5%.
Pandu Gumilar | 23 Mei 2018 14:35 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Perusahaan perkebunan kelapa sawit, Minamas Plantation, anak perusahaan Sime Darby Group masih merasakan dampak fenomena El Nino yang berimbas pada penurunan produksi tandan buah segar (TBS) sebesar 5%.

Head Plantation Operations PT Minamas Plantation Roslin Azmy Hassan mengatakan perkebunan kelapa sawit Minamas masih terkena dampak dari fenomena El Nino yang terjadi pada 2015. Fenomena tersebut berimbas pada kuantitas produksi tandan buah segar dan juga minyak sawit mentah yang berkurang sebesar 5%.

"Kami masih terkena dampak fenomena El Nino dari segi produksi mulai 2015 dan masih sampai dengan sekarang. Kurang lebih penurunan produksi sebesar 5% dari total target tahunan,"katanya pada Selasa (23/5).

Roslin menjelaskan dengan luas kebun yang mencapai 201.364 ha yang sudah tertanam, Minamas berpotensi untuk memproduksi 2,67 juta ton TBS setiap tahunnya. Tetapi, akibat terkena dampak El Nino produksi TBS berkurang menjadi 2,4 juta ton. Sementara untuk minyak sawit mentah yang semula ditargetkan 600.000 ton, hanya mampu memproduksi 570.000 ton.

Selain itu, Roslin menambahkan setiap hektar perkebunan kelapa sawit Minamas seharusnya mampu memproduksi 18 ton, namun karena dampak masih berlangsung produksi belum maksimal dan turun menjadi sekitar 17 ton per hektar.

Berdasarkan lembar fakta Minamas Plantation, sampai dengan April 2018, perkebunan sudah mencatatkan produksi 2,15 juta ton TBS dan 587.511 minyak sawit mentah.

"Yang terkena dampak paling besar, terutama kebun di Kalimantan Selatan,"imbuhnya.

Perkebunan kelapa sawit Minamas di Kalimantan Selatan merupakan perkebunan paling besar dengan jumlah 23 perkebunan dari total 69 perkebunan yang dimiliki. Artinya area tersebut sudah mencakup 15% dari total peekebunan yang Minamas miliki.

Roslin optimistis, tahun depan produksi kelapa sawit perusahaannya akan kembali normal atau melebihi target karena didukung oleh faktor cuaca yang sudah kembali normal.

Selain itu, Minamas pun telah berhasil meremajakan (replanting) kebun sawit inti seluas 38.000 hektare. Roslin mengakui, saat ini 48% pohon kelapa sawit Minamas sudah perlu diremajakan karena berusia lebih dari 18 tahun. Hal ini yang menjadi faktor lain penurunan produksi perkebunan kelapa sawit selain faktor cuaca.

Program peremajaan dilakukan mulai 2015, dengan meremajakan lahan seluas 10.000 ha. Lalu 2016, peremajaan dilakukan seluas 14.000 ha, dan 2017 sampai dengan saat ini sudah 14.000 ha. Roslin mengatakan, Minamas akan terus agresif dalam hal replanting.

Sampai dengan saat ini Minamas sudah meremajakan perkebunan 7% dari luas lahan yang tertanam. "Mulai tahun depan sampai berikutnya kami akan meremajakan 5% dari total lahan tertanam," ujar Roslin

Perlu diketahui bahwa periode anggaran Minamas dalam setahun dihitung dari Juli hingga Juni. Karena itu, dia mengatakan, total peremajaan seluas 14.000 ha sudah berhasil dilaksanakan.

Sementara itu, khusus untuk luas kebun plasma yang mencapai 46.458 ha Minamas belum berniat untuk melakukan peremajaan.

Roslin mengatakan, kebun plasma Minamas belum perlu diremajakan sebab usia pohon kelapa sawit yang tergolong masih muda.

Dengan mengacu pada standar Kementerian Pertanian, dana investasi peremajaan satu hektare membutuhkan biaya Rp60 juta.

Alhasil, Minamas menggelontorkan setidaknya Rp840 miliar setiap tahunnya untuk proses peremajaan. Proses peremajaan juga akan dilakukan secara berkelanjutan.

Melalui program peremajaan ini, diharapkan di tahun pertama panen (setelah 36 bulan) satu pohon nanti bisa menghasilkan 15 ton per ha, naik dibanding pohon yang ada sekarang di tahun pertama menghasilkan 7-10 ton per ha.

Tag : Minamas Plantation
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top