Pabrikan Keramik Desak Penerapan Bea Masuk untuk Lindungi Industri Lokal

Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) mengajukan penerapan bea masuk tindakan pengamanan sementara sembari menunggu proses pengenaan safeguard rampung.
Annisa Sulistyo Rini | 23 Mei 2018 15:55 WIB
Karyawan (tengah) melayani pengunjung memilih produk keramik ArTile Granito di gerai Pameran Indobuildtech 2018, Indonesia Exhibition Convention, BSD City, Tangerang Selatan, Kamis (3/5/2018). - JIBI/Endang Muchtar

Bisnis.com, JAKARTA—Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) mengajukan penerapan bea masuk tindakan pengamanan sementara sembari menunggu proses pengenaan safeguard rampung.

Elisa Sinaga, Ketua Asaki, mengatakan pihaknya mengambil langkah tersebut dengan tujuan agar industri keramik dalam negeri tidak semakin terpukul dengan barang impor, terutama dari China. Apalagi, sejak 1 Januari 2018, bea masuk untuk produk keramik China turun dari 20% menjadi 5% karena perjanjian dagang.

"Langkah pengamanan sementara ini merupakan langkah paling cepat karena kalau menunggu proses safeguard selesai industri bisa semakin terpukul. Mudah-mudahan bisa jalan sekitar Juli atau Agustus," ujarnya di Jakarta, Selasa (22/5/2018).

Bea masuk tindakan pengamanan perdagangan sementara merupakan pungutan negara yang dilakukan selama proses penyelidikan dengan tujuan mencegah terjadinya kondisi lebih parah yang sulit untuk dipulihkan atau diperbaiki.

Asaki telah mengajukan permohonan safeguard pada sekitar Maret lalu. Pada akhir Maret, Komite Pengamanan Perdagangan Indonesia (KPPI) menyatakan telah menemukan indikasi awal lonjakan impor yang menyebabkan kerugian industri keramik dalam negeri. 

Untuk itu otoritas akan memulai penyelidikan untuk pengenaan tindakan pengamanan. Keramik yang kemungkinan dikenai bea tambahan terdiri dari 28 kode harmonized system (HS) dalam sistem kepabeanan Indonesia.

Sementara itu, sambil menunggu penerapan pengenaan bea masuk tindakan pengamanan sementara, Elisa menuturkan industri keramik dalam negeri mencoba bertahan berkompetisi dengan kondisi yang ada. Permintaan keramik domestik saat ini juga belum terlalu berubah sejalan dengan situasi industri properti dalam negeri.

"Ada peningkatan sedikit, tetapi kami tidak menaikkan produksi karena diisi impor," katanya.

Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS), impor produk keramik sepanjang kuartal I/2018 mengalami peningkatan dari sisi nilai, yaitu naik 75,53% dari US$80,38 juta menjadi US$141,10 juta.

Pada tahun ini, Elisa memperkirakan impor bisa tumbuh hingga 40% dengan penurunan bea masuk. Pada tahun-tahun sebelumnya, impor keramik tumbuh sekitar 20% setiap tahun.

Tag : keramik
Editor : Ratna Ariyanti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top