Bisnis Ritel: Pasokan Meningkat Saat Ramadan, Daya Beli Jadi Kekhawatiran

Asosiasi Pengusaha Pemasok Pasar Modern Indonesia (AP3MI) mencatat adanya kenaikan permintaan 2-3 kali lipat untuk kategori makanan ketika momentum Ramadan dan Idulfitri.
Agne Yasa | 23 Mei 2018 18:28 WIB

Bisnis.com, JAKARTA -- Asosiasi Pengusaha Pemasok Pasar Modern Indonesia (AP3MI) mencatat adanya kenaikan permintaan 2-3 kali lipat untuk kategori makanan ketika momentum Ramadan dan Idulfitri.

Ketua Asosiasi Pengusaha Pemasok Pasar Modern Indonesia (AP3MI) Susanto mengatakan setiap tahun selalu ada kenaikan permintaan pasokan ketika persiapan Idulfitri. Namun, persoalannya adalah tingkat pembelian dari barang yang masuk.

"Biasa lebaran, orang nyetok karena mau libur. Persoalannya sederhana, barang yang masuk laku terjual apa tidak karena daya beli turun," ujarnya, kepada Bisnis.com.

Dia mengatakan kenaikan harga seperti bahan bakar, listrik, dan kondisi nilai tukar rupiah pada dolar juga mempengaruhi belanja masyarakat.

"Harapannya omzet meningkat tajam tapi kalau konsumen tidak ada uang bagaimana. Feeling saya lebaran tahun ini tidak terlalu bagus, paling naik 20%-30% saja," ujarnya.

Padahal, katanya, jika dalam kondisi terbaik, kenaikan omzet bisa mencapai di atas 50%.

Pihaknya mencatat biasanya untuk kategori Hypermarket membutuhkan pasokan sekitar 50.000 item, supermarket sekitar 15.000-20.000, minimarket 3.500 item.

"Komposisinya biasanya 70% food dan 30% non food. Makanan yang biasanya meningkat [ketika Ramadan dan Idulfitri]. Apalagi yang seasonal, seperti biskuit dan sirup bisa mencapai 2-3 kali lipat sedangkan produk kebersihan 40%-50%," jelasnya.

Untuk mengantisipasi libur panjang dimana pabrik dan jalan untuk truk juga dibatasi maka pemasok juga mengejar target untuk memenuhi omzet di waktu awal Ramadan.

"Teorinya H-7 dan H+7, tidak tahu ini cuti panjang, sekarang kami kebut, lebih baik  penuhin sekarang dibanding nanti tidak  ada waktu. [Jadi] 2-3 bulan sudah disiapkan, paling lambat 2 bulan, dari April sudah dikeluarkan," ujarnya.

Sementara itu, di pasar tradisional atau konvensional Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) mengungkapkan belum ada peningkatan permintaan yang signifikan hingga awal Ramadan. 

Ketua Umum IKAPPI Abdullah Mansuri mengatakan dibandingkan Ramadan tahun kalau, permintaan ketika memasuki Ramadan ini menurun.

"Kalau komparasi Ramadan tahun kemarin jauh, lebih kuat tahun kemarin. Kurang lebih 30%-50% [penurunannya]," katanya, kepada Bisnis.com.

Pihaknya memiliki dugaan, permintaan yang menurun tersebut dipengaruhi daya beli dan kondisi ekonomi masyarakat yang menurun. 

"Jadi supply-nya juga tidak terganggu karena demand-nya tidak terlalu tinggi," ujarnya. 

Meskipun demikian, sejumlah komoditas mengalami kenaikan harga seperti minyak goreng dari Rp12.000 menjadi Rp12.500, bawang merah dari Rp35.500 menjadi Rp38.000, cabai, dan ayam. 

"Kenaikan ini karena faktor psikologis kalau saya melihat, di hari puasa orang berpikiran harga pasti tinggi jadi kebawa juga. Tapi saya ingin memastikan sekali lagi dengan tim yang sedang diturunkan faktor penyebab menurunnya daya beli masyarakat," jelasnya. 

Beberapa pedagang yang telah di survei secara internal oleh IKAPPI menyatakan adanya penurunan permintaan dibandingkan Ramadan tahun lalu. Namun, penyebabnya masih ditelaah, faktor ekonomi, produksi dan lainnya. 

"Pedagang bilangan dan penurunan pembelian, pedagang busana juga bilangan dan penurunan," katanya. 

Dia menambahkan untuk busana terdapat catatan dimana memasuki Ramadan tidak terlihat geliat atau kenaikan permintaan. 

"Busana biasanya cukup tinggi di pertengahan puasa, tapi dibanding tahun kemarin awal puasa tidak ada kenaikan, padahal tahun kemarin di awal puasa ada kenaikan 30%, pedagang khawatir," katanya. 

Dia mengatakan ada kemungkinan masyarakat masih menunggu untuk membelanjakan uangnya atau memang kondisi ekonomi yang melemah. 

Adapun pedagang busana biasanya terdapat di pasar-pasar dari skala kecil maupun sedang dengan jumlah pedagang dan skala yang beragam. 

Ikappi tetap optimistis bahwa Ramadan masih menjadi momentum untuk meningkatkan penjualan oleh para pedagang. 

"Ramadan ini bagian dari panennya pedagang walaupun fakta di lapangan, ekspektasi di luar dugaan kami," ujarnya. 

Namun, pihaknya tetap mempunyai keyakinan Ramadan tahun ini akan berkontribusi untuk pendapatan pedagang jelang Lebaran.

"Walaupun di awal belum membahagiakan kami berharap di pertengahan dan akhir sesuai ekspektasi, tahun kemarin bisa 50% peningkatan permintaan, diharapkan 30% walaupun tidak sama dengan tahun kemarin," katanya. 

 

 

 

Tag : ritel
Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top