Pengembangan Sawit yang Berkelanjutan Perlu Pendekatan Kolaboratif

Pendekatan kolaboratif dilakukan dengan menggandeng stakeholder terkait, termasuk antara negara-negara Uni Eropa (UE) yang menjadi pasar kelapa sawit dan turunannya dengan negara produsen.
Annisa Margrit | 27 April 2018 16:27 WIB
Petani memindahkan kelapa sawit hasil panen ke atas truk di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (4/4/2018). - JIBI/Rachman

BIsnis.com, NUSA DUA -- Pendekatan kolaboratif dinilai perlu untuk menangkal kampanye negatif terhadap kelapa sawit.

Program Manager Sustainable Development The Netherlands Oils and Fats Industry, Eddy Esselink mengatakan terus bertambahnya populasi bumi akan meningkatkan kebutuhan terhadap minyak nabati semakin besar. Untuk itu, diperlukan minyak nabati yang berkelanjutan.

Pendekatan kolaboratif dilakukan dengan menggandeng stakeholder terkait, termasuk antara negara-negara Uni Eropa (UE) yang menjadi pasar kelapa sawit dan turunannya dengan negara produsen.

"Perlu pendekatan yang seimbang mengenai sawit. Dalam hal ini, European Palm Oil Alliance (EPOA) bekerja sama dengan berbagai instansi sehingga diharapkan kebenaran mengenai sawit dapat disampaikan, bahkan dengan Non Governmental Organization (NGO) agar mereka mendukung sawit yang sustainable," tuturnya di sela-sela The 6th International Conference on Oil Palm and Environment (ICOPE) yang bertemakan Embracing Sustainable Palm Oil: Solutions for Local Production and Global Change di Nusa Dua, Bali, Jumat (27/4/2018).

UE merupakan salah satu pasar terbesar bagi minyak kelapa sawit Indonesia. Berdasarkan data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), ekspor CPO ke UE tercatat sebesar 31,05 juta ton pada 2017 atau meningkat 23% dari realisasi tahun sebelumnya yang sebanyak 25,11 juta ton.

Pada 2017, porsi ekspor ke UE sebesar 16,18%. Angka ini lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya yang sekitar 17,78%.

Esselink mengungkapkan promosi dan kampanye positif atas kelapa sawit dan turunannya di UE mulai membuahkan hasil karena ada kenaikan permintaan terhadap produk sawit yang berkelanjutan dan tersertifikasi. Saat ini, 69% produk sawit di UE untuk makanan adalah produk yang berkelanjutan.

Apalagi, ada Amsterdam Declaration Group yang diluncurkan pada 2016. Deklarasi yang menyatakan komitmen dukungan terhadap sawit yang berkelanjutan tersebut mencakup sejumlah negara Eropa yakni Denmark, Prancis, Jerman, Italia, Belanda, Norwegia, dan Britania Raya.

Tag : sawit, minyak sawit, kelapa sawit, harga cpo
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top