Perkuat Penetrasi di Asia Selatan, Kemendag Bawa Misi Dagang ke Bangladesh

Demi memperkuat penetrasi pasar non tradisonal ke Asia Selatan, Direktorat Jenderal (Ditjen) Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kementerian Perdagangan (Kemendag) akan melakukan melalui misi dagang ke Bangladesh yang dilaksanakan pada 26-28 April 2018.
Nur Faizah Al Bahriyatul Baqiroh | 23 April 2018 11:06 WIB
Petani memindahkan kelapa sawit hasil panen ke atas truk di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (4/4/2018). - JIBI/Rachman

Bisnis.com, JAKARTA — Demi memperkuat penetrasi pasar non tradisonal ke Asia Selatan, Direktorat Jenderal (Ditjen) Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kementerian Perdagangan (Kemendag) akan melakukan melalui misi dagang ke Bangladesh yang dilaksanakan pada 26-28 April 2018.

Untuk itu, Kemendag akan menggandeng kementerian/lembaga lain dan KBRI Dhaka. Misi dagang ini juga menjadi upaya mewujudkan target ekspor 11%.

 

“Bangladesh merupakan pasar non tradisional yang sangat potensial bagi ekspor Indonesia. Dengan jumlah peduduk yang besar dan pertumbuhan ekonomi yang cukup baik, telah tercipta 20%-25% golongan menengah yang merupakan potensi besar bagi Indonesia untuk membuka pasar lebih lebar,” kata Direktur Jenderal  (Dirjen) PEN Arlinda dalam keterangan resmi, Minggu (22/4/2018).

Tren perdagangan Indonesia-Bangladesh selama 5 tahun terakhir (2013-2017) mengalami peningkatan di kisaran 6,71%. Hal ini terlihat dari nilai total perdagangan non migas pada 2013 yang sebesar US$1,15 miliar dan menjadi US$1,66 miliar pada 2017.

Pada 2017, neraca perdagangan Indonesia-Bangladesh mengalami surplus US$1,52 miliar, terdiri atas surplus non migas US$1,5 miliar dan surplus migas US$16,12 juta. Nilai ekspor produk non migas Indonesia ke Bangladesh tahun 2017 tercatat sebesar US$1,58 miliar, sedangkan nilai ekspor produk migas sebesar US$16,12 juta.

Produk ekspor non migas Indonesia-Bangladesh dengan nilai tertinggi pada 2017 adalah minyak kelapa sawit dan turunannya, bubur kayu kimia, benang, dan serat staple buatan.

Dalam misi dagang Bangladesh, Kemendag akan membawa sejumlah perusahaan besar dari berbagai sektor seperti sawit, fesyen, makanan dan minuman, otomotif, BUMN, jasa, furnitur, dan instansi daerah.

Hingga saat ini, sejumlah 46 perusahaan memastikan mengirimkan delegasi mereka sebanyak 96 peserta. Para pengusaha ini telah menjalin komunikasi dagang dengan 122 buyer Bangladesh, terdiri atas 103 perusahaan importir dan 19 delegasi KADIN Bangladesh.

Kemendag juga mengagendakan pertemuan penting para pengusaha kedua negara dalam sejumlah kegiatan seperti Business ForumBusiness Matching, serta kunjungan ke importir minyak kelapa sawit, Meghna Group of Industries (MGI).

MGI merupakan salah satu perusahaan konglomerat terbesar dan terkemuka di Bangladesh. Dengan omzet US$2 miliar dan aset US$1 miliar, MGI saat ini mengoperasikan 32 perusahaan dan 30 industri termasuk pengolahan minyak nabati, yaitu Tanveer Oil Mills Ltd.

Adapun kegiatan Business Forum dan Business Matching akan dihadiri Duta Besar RI di Dhaka dan Secretary of Ministy of Commerce, Bangladesh.

Kegiatan misi dagang Bangladesh akan disinergikan dengan perhelatan Indonesia Fair 2018 yang diinisiasi oleh KBRI Dhaka. KBRI akan menyediakan 40 stan untuk pelaku usaha dan 4 paviliun untuk sponsor yaitu Kementerian Pariwisata, Pertamina, Adaro Energy, dan Angkasa Pura di mana penjaringan peserta dilakukan oleh Kemendag.

Selain itu, Indonesia Fair 2018 akan menyatukan kegiatan forum bisnis, temu bisnis, promosi budaya dan pariwisata, serta peragaan busana Indonesia. Pelaku bisnis, pejabat pemerintah, akademisi, dan masyarakat luas ditargetkan menghadiri acara ini.

Bangladesh disebut sebagai salah satu negara terpadat di dunia dengan penduduk lebih dari 160 juta jiwa. Sejak 2011, pertumbuhan ekonominya tercatat di atas 6% dan dalam tiga tahun ke depan ditargetkan menjadi negara dengan penghasilan menengah.

Tag : kemendag, ekspor impor
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top