Pembiayaan Proyek Pengembang Makin Variatif

Ketergantungan pengembang terhadap perbankan sebagai sumber pembiayaan proyek berkurang. Kini banyak pilihan bagi pengembang untuk memperkecil risiko dan mengurangi porsi ekuitas.
Anitana Widya Puspa | 27 Maret 2018 20:33 WIB
Perumahan sederhana di Cicalengka, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. - Antara/Raisan Al/Farisi

Bisnis.com, JAKARTA—Ketergantungan pengembang terhadap perbankan sebagai sumber pembiayaan proyek berkurang. Kini banyak pilihan bagi pengembang untuk memperkecil risiko dan mengurangi porsi ekuitas.

Vice President Coldwell Banker Indonesia Dani Indra Bhatara mengatakan kini pengembang tak harus bergantung banyak dari pembiayaan perbankan. Menurutnya kini lebih banyak sumber pendanaan seperti private equity ataupun investasi langsung. Ada banyak lembaga yang menjembatani pendanaan itu.

Dani melanjutkan pengembang juga bisa mengumpulkan dana dari masyarakat melalui instrumen resmi seperti proses penawaran saham perdana ke publik (IPO), menerbitkan surat utang jangka menengah, bahkan yang terbaru melalui teknologi finansial (tekfin), ataupun memperbanyak kerja sama dengan pemilik lahan.

“Justru sekarang ini pengembang berusaha tidak menggunakan modal sendiri. Dalam perjalanannya mencari sumber pendanaan dari pihak lain, untuk mengurangi risiko. Misalnya juga banyak yang nggak harus punya tanah, kerja sama dengan pemilik lahan,” katanya kepada Bisnis, Minggu (26/3).

Meskipun banyak alternatif pembiayaan, imbuh dia, modal atau ekuitas internal tetap diperlukan untuk memastikan neraca keuangan berjalan sehat. Ekuitas ini lazimnya juga diperoleh melalui uang muka konsumen atau pra-penjualan dan penjualan proyek. Idealnya komposisi pembiayaan yang bisa didanai perbankan berbanding ekuitas adalah 60:40 ataupun 65:35.

Dani menjelaskan setiap pembiayaan tentu ada risikonya masing-masing. Misalnya saja untuk pembiayaan dari asing, bergantung pada bagaimana pengembang lokal mendapat kepercayaan dari dana asing terhadap proyeknya.

Naiknya peringkat Indonesia sebagai negara layak investasi saat ini menjadi nilai tambah. Selain itu, perbankan luar negeri memiliki suku bunga pinjaman yang lebih rendah karena inflasi yang juga rendah. Di sisi lain, mata uang asing tidak memiliki kepastian karena nilai tukar yang selalu bergerak.

Dia mencontohkan berkaca pada pengalaman krisis 1998 sebagi imbas banyak pengusaha yang mengandalkan pinjaman perbankan dari luar negeri.

Tag : pembiayaan rumah
Editor : M. Rochmad Purboyo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top